Dokter Julid = Kegagalan Sistem Pendidikan
Bismillahirrahmanirrahim
Hari-hari ini jagat media sosial sangat ramai dengan bahasan terkait nakes. Bukan semua nakes yang mereka bahas, tetapi para nakes yang melontarkan kalimat negatif pada seorang pasien yang telah menunggu delapan jam dan belum mendapat kamar. Komen negatif tersebut berujung perkara karena dianggap nirempati pada pasien yang pada akhirnya meninggal. Banyak orang membahas siapa sebenarnya para nakes tersebut yang kemudian diikuti oleh klarifikasi dan permohonan maaf dari para nakes yang dimaksud.
Baik, sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan bahasan ini. Namun, yang membuat aku tiba-tiba ingin menuliskannya di sini adalah karena suatu fakta bahwa beberapa nakes tersebut adalah dokter. Dan ada satu dokter yang sangat mencolok prestasinya (lulusan kampus top tier, kuliah di LN, dan penerima beasiswa sana sini) yang juga ikut terseret dalam kasus ini. Pertanyaannya, kok bisa?
Banyak nakes lain yang membela mereka dengan mengatakan bahwa pekerjaan sebagai nakes itu berat dan melelahkan. Mungkin mereka kelelahan hingga berkomentar negatif untuk melepaskan beban psikologis yang mereka alami.
Namun, siapa sih orang dewasa yang tidak capek? Tidak hanya nakes kan yang capek? Semua orang dewasa memang capek. Dan apakah itu bisa dijadikan alasan untuk berkomentar/bertindak negatif ke orang lain?
Baiklah, sebelum menghakimi, mari kita lihat kasus ini dari kacamata kasih sayang. Menurutku, kita semua ini adalah korban sistem. Iya, korban sistem.
Sistem apa? Kesehatan kah?
Bukan. Kita ini adalah korban sistem pendidikan.
| Perpustakaan yang aku kunjungi sebagai mahasiswa ternyata adalah perpustakaan yang sama yang aku kunjungi bersama anakku |
Menurutku kasus ini adalah salah satu dampak dari sistem pendidikan kita saat ini. Kita terbiasa dengan nilai. Terbiasa dengan label. Terbiasa dengan peringkat berapa dan mendapat prestasi apa. Sekolah pun dijadikan ajang gengsi. Yang pintar masuk sekolah tertentu. Yang tidak pintar dianggap buangan.
Secara kasat mata mungkin kita akan iba pada mereka yang tidak pintar karena mereka seperti dinomorduakan. Namun, sadarkah kita bahwa sistem ini memberi beban psikologis pada mereka yang pintar?
Beban psikologis itu nyata ketika dewasa. Anak pintar terbiasa diistimewakan, terbiasa dilabeli berhasil, terbiasa mendapat sesuatu yang lebih 'wah' dibanding mayoritas orang. Dan ketika dewasa, mereka tidak mau hidupnya biasa-biasa saja. Mereka masih menginginkan validasi itu. Maka ujung-ujungnya apa? Mencari sesuatu yang bergengsi lagi. Sesuatu yang terlihat prestis. Sesuatu yang akan membuat mereka terlihat 'wah' di mata orang lain.
Aku tidak membenci jurusan kedokteran, tetapi coba kita lihat realitanya, banyak mahasiswa kedokteran memilih jurusan itu bukan karena dia suka atau ingin jadi dokter. Namun, lebih karena dia bingung ingin memilih apa dan tetap ingin terlihat pintar.
| Dari zaman belum bisa jalan sampai bisa lari-lari tetap ke sini |
Sad truth. Terlalu banyak kisah di luar sana yang menggambarkan kondisi ini. Masuk kedokteran bukan karena minat dan passionnya di sana, tetapi karena 'kata orang' jadi dokter itu prestis, 'kata orang' jadi dokter itu kaya, dan 'kata orang' jadi dokter itu akan dihormati.
Sekarang, coba bayangkan ketika kenyataan tidak seindah 'kata orang'. Benar mungkin masuk kedokteran itu prestis dan dihormati, tetapi apa iya jadi dokter di zaman ini auto kaya?
Aku punya teman SMA yang pintar sekali, dia masuk kedokteran tapi dia bukan dari keluarga dokter. Di sisi lain, aku punya teman SMA yang pintarnya di bawah dia, dia masuk kedokteran juga dan dia berasal dari keluarga dokter. Tahu apa yang terjadi 13 tahun setelah kami lulus SMA? Teman yang pintar masih berjuang sebagai dokter umum, sedangkan teman satunya sudah menjadi dokter spesialis. Background keluarga itu berpengaruh banyak gaes.
Dunia kedokteran tidak semudah itu. Setelah dokter umum, akan ada tendensi sekolah dokter spesialis, dan lagi-lagi itu sistem yang membuat dokter umum tidak terlihat 'wah' sebagaimana dokter spesialis. Dan apakah semua dokter umum punya kesempatan melanjutkan ke dokter spesialis? Sayangnya, tidak.
Dan yang aku amati, ini seperti hal yang tidak ada ujungnya. Setelah mencapai ini, akan ada lagi hal yang ingin dicapai, setelah pencapaian itu, ada hal lain lagi yang ingin dikejar. Dan coba bayangkan berapa biaya untuk mendapatkan itu semua?
Biayanya begitu besar untuk pendapatan awal yang begitu kecil. Dua ribu rupiah per pasien BPJS. Dokter umum hanya dihargai dua ribu rupiah per pasien BPJS.
Kira-kira, kalau kamu jadi dokter umum, kamu kecewa ngga? Sudahlah masuk FK itu rebutan, kuliahnya susah, lulusnya lama, waktu lulus pun ga auto kaya. Masih panjang perjalanan untuk meraih apa yang diinginkan itu (baca: kaya).
Terlebih, lulusan kedokteran itu tidak bisa seperti kita yang dari jurusan lain. Misal nih anak Akuntansi, lulus bisa cari kerja apa aja yang ada hubungannya dengan keuangan. Anak teknik, lulus bisa ngerjain apa aja yang berhubungan sama teknik. Tapi lulusan kedokteran? Ruang lingkup kerjanya begitu sempit di satu bidang. Kebayang ngga betapa pusingnya mereka perihal finansial?
Kalau bukan orang yang benar-benar jujur berangkat dari hati nuraninya yang ingin menjadi dokter, rasanya berat banget sih jadi dokter di negeri ini. Maka, jujur aku ga heran jika ada nakes yang ucapan/tindakannya negatif karena tidak semua nakes itu ingin menjadi nakes. Mereka lelah. Harapan yang mereka inginkan tidak sepenuhnya terwujud. Mereka terjun ke dunia itu karena tadinya mungkin mereka berpikir itu keren dan prestis. Fakta finansial nakes yang seperti ini mungkin saja mereka belum tahu atau mungkin mereka tahu tetapi dikuburkan oleh keinginan terlihat hebat di mata manusia.
Maka, ayolah, jujur capek sekali dengan sistem pendidikan saat ini. Hebat hanya diukur jika juara ini itu. Pintar hanya diberikan kepada mereka yang jago akademik. Label sukses hanya disematkan hanya kepada mereka yang membawa piala. Padahal perlombaan yang diujikan itu materinya hanya bekisar tentang akademik saja. Ada banyak sekali keahlian/pengetahuan lain yang tidak dilombakan yang jika dilombakan pun, mungkin anak-anak yang pintar akademik tidak akan juara di perlombaan tersebut karena mereka tidak bisa.
Tolong berhenti membuat anak yang kelebihannya di bidang akademik merasa lebih istimewa dan lebih berharga dari anak lain karena jujur beban psikologis mereka di masa dewasa akan begitu berat. Bayangkan kamu sejak kecil dilabeli pintar, kamu terus belajar dan berprestasi, waktu dan tenagamu banyak kamu habiskan ke sana. Dan ketika dewasa, ketika kamu tidak hidup dalam standar sukses yang ada di benakmu, baik karena pilihan hidupmu sendiri atau karena nasib, kamu akan stres total. Kamu merasa layak mendapat kehidupan yang lebih baik karena kamu merasa telah berjuang mati-matian selama ini. Kamu merasa perjuanganmu sia-sia ketika kamu terlihat tidak menjadi apa-apa dalam kacamata mayoritas orang.
Berat. Berat sekali menjadi seseorang yang tadinya adalah 'seseorang' kemudian menjadi bukan siapa-siapa karena dia tidak terbiasa menjadi bukan siapa-siapa itu.
Maka sungguh tidak heran ketika banyak orang memilih sesuatu bukan karena dia butuh atau sesuai dengan dirinya, tetapi karena sesuatu itu prestis dan bisa dibanggakan di mata mayoritas manusia.
---
Maka, yuk berhenti di generasi kita. Kalau memungkinkan keluar dari sistem, mungkin itulah opsi yang terbaik. Namun, jika tidak memungkinkan, cobalah memilih sekolah yang keluar dari batas-batas atau label-label yang diberikan oleh society.
Sekolah anak bukan ajang prestis. Pilihlah sekolah yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Selesai ditulis 24 Safar 1448H.
Comments
Post a Comment