International Conference with Toddler: So Many Precious Lessons Here!
Bismillahirrahmanirrahim
Sekitar bulan Juli 2026, aku melihat ada pengumuman Call for Paper dari BPKH. Kompetisi yang pernah aku ikuti tahun lalu ini kembali diselenggarakan dan kini temanya lebih susah, yaitu berkaitan dengan Enterprise Risk Management. Hah? Apa itu?
Long story short, pengumuman BWI muncul duluan, Alhamdulillah paper kami lolos untuk dipresentasikan di acara 2nd GLOW 2026. Sambil menunggu pengumuman paper BPKH (yang pada akhirnya tidak lolos ke dua besar), kami pun menimbang, harus kah ke Jakarta? Harus kah ikut acaranya offline ketika ada opsi boleh memilih online?
Alih-alih sedih atas musibah atau kehilangan, seharusnya kita bersyukur karena pernah diberi hal tersebut di dunia. Simak sendiri aja deh. Bener-bener meringankan hati bagi orang yang sedang Allah uji.
"Jika impian besarmu belum tercapai, setidaknya capailah hal yang mendekati impian itu."
![]() |
| Our family trip Our family experience Our youngest participant |
Di saat yang sama, ternyata BPPK dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) juga menyelenggarakan hal yang serupa. Karena saat itu aku sedang libur semester, aku tertarik untuk ikut ketiganya dan menulis tema yang sudah ditentukan lalu aku kaitkan dengan wakaf.
Wakaf? Mengapa tiba-tiba wakaf?
Entahlah, aku lupa mengapa. Yang jelas, saat itu aku sedang tertarik dengan wakaf karena melihat setiap hari suamiku pusing mengurus wakaf. Dan aku merasa amazed setelah mengetahui bahwa wakaf begitu powerful dan berpengaruh jika dikelola dengan benar.
Salah satu hal yang aku syukuri adalah karena ketiga event ini deadlineya tidak bebarengan. Kala itu deadlinenya: BPPK -> BWI -> BPKH. Jadi aku fokus menyelesaikan paper BBPK, lalu lanjut paper BWI, dan kemudian paper BPKH.
Singkat cerita, pengumuman dari BPPK keluar dan aku dinyatakan tidak lolos seleksi. Sedih? Mungkin karena saat itu aku sedang mengerjakan paper BWI ya jadi tidak terlalu kecewa karena konsentrasiku adalah bagaimana agar papernya selesai sebelum deadline.
Menariknya adalah acara puncak BWI dan BPKH ternyata ada di tanggal yang sama. Kala itu aku berpikir, jika misal aku lolos keduanya, aku harus memilih salah satu karena tidak mungkin membelah diri. Oleh karena itu, sebagai jalan keluar, aku mengajak suami sebagai penulis kedua di paper BWI agar dia bisa mewakiliku presentasi jika memang aku lolos keduanya.
Dan ternyata, inilah skenario indah yang telah Allah atur untuk kami.
![]() |
| Betapa besar pengaruh niat Sering denger kisah ini tapi baru ngerasa nyes ketika baca sendiri Baru tahu kan bisa sehebat ini? |
Terlebih, acara offline ini berlangsung selama kurang lebih tiga hari, yaitu:
- 13 Okt 2026: Presentasi di Menara Syariah PIK 2
- 14 Okt 2026: Visit Waqaf dan Pengabdian Masyarakat di Lembang
- 15 Okt 2026: Seminar Internasional di JICC Jakarta
Selain itu ternyata ada acara opsional lain, yaitu:
- 16 Okt 2026: Waqf Investor Forum di JICC Jakarta
Bagaimana penginapannya? Bagaimana akomodasinya? Bagaimana makannya? Mengingat semua ini tidak ditanggung panitia. Aku awalnya berusaha mengajukan pendananan ke IOU, tetapi hingga hari ini aku belum berhasil mendapat pendanaan itu.
Acara ini mungkin tidaklah murah. Bagi kami yang berusaha menghemat pengeluaran untuk salah satu impian yang ingin kami wujudkan, mengikuti acara ini berarti akan menguras alokasi dana untuk ditabung di bulan itu.
Namun, kala itu aku berpikir bahwa kesempatan ini mungkin tidak akan terulang dua kali. Mungkin setelah ini aku akan hamil anak kedua dan akan semakin sulit untuk ikut serta jika ditunda. Mungkin sebentar lagi kehidupan akan berubah entah dengan suami yang sulit izin ketika bekerja atau Hafshah yang punya kegiatan sendiri sehingga tidak bisa safar lama-lama. Uang bisa dicari, tetapi kesempatan dan koneksi mungkin tidak akan terulang lagi.
Dan acara ini sebenarnya relate dengan suamiku yang bekerja di bidang wakaf. Barangkali dengan mengikuti acara ini, dia akan bertemu pihak-pihak yang ia butuhkan. Dan barangkali juga akan membukakan kesempatan lain baginya.
Dengan segala pertimbangan itu, akhirnya kami memutuskan berangkat dan menyiapkan segala sesuatunya. Dan kebetulan, tanggal 11 Okt 2026, ada salah seorang temanku yang menikah sehingga menjadi satu perjalanan dengan rencana kami ke ibu kota.
Jujur, apa yang Allah atur benar-benar indah. Allah tahu dana kami terbatas. Allah atur semua tanggalnya begitu pas sehingga tidak bolak-balik mengeluarkan dana untuk transportasi.
Perjalanan pertama: Surabaya - Purworejo
Kalau Putri ga nikah di sini, mungkin aku ga akan pernah ke kota ini. Yang membuat aku begitu terharu adalah karena walau kami memilih penginapan secara online pun, ternyata pemiliknya adalah salafi. Masyaa Allah. Penginapannya bagus dan murah. Di sekitarnya kami bisa menyaksikan produksi kelapa untuk berbagai kebutuhan.
Perjalanan kedua: Purworejo - Bintaro
Bentar, mengapa harus Bintaro? Bukankah tidak ada acara yang diselenggarakan di Bintaro? Iya, acara kami tidak ada yang di Bintaro. Namun, Bintaro itu sudah seperti rumah kedua. Aku tahu tempat beli makan, tempat mencuci, tempat penginapan yang pas, dam tempat menyewa sepeda motor yang sesuai budget.
Dari pengalaman bulan Agustus lalu ketika ke Jakarta, rasanya salah satu yang membuat uang kami terkuras adalah karena transportasi yang tidak fleksibel. Kemana-mana naik gocar. Oleh karena itu, kami upayakan sewa motor selama kurang lebih 5 hari untuk mengurangi biaya.
Pun juga masalah penginapan ini agak PR banget kalau di Jakarta. Semalam habis ratusan ribu. Namun, di Bintaro, karena kos banyak yang sepi, harga sewanya jadi sangat miring. Hukum ekonomi berlaku memang, yaitu ketika penawaran lebih banyak dari permintaan, maka harga akan rendah.
![]() |
| Hafshah senang, ibu lebih senang lagi karena kangen kampus |
Alhamdulillah, di tengah segala ke-hetic-an ini, Allah masih memberi rezeki lewat orang-orang yang membeli emas. Bahkan ketika aku tidak membawa stoknya sekalipun, Allah bukakan jalan bagiku untuk tetap bisa berjualan lewat para koneksi di Bintaro. Dan sejujurnya, momen ini mengajarkanku untuk berusaha mempercayakan bisnis ke orang lain ketika aku belum bisa menghandlenya. Iya, di Surabaya, emasku dipegang orang lain dan aku percayakan kepadanya. Barangkali suatu hari bisnisku semakin besar dan aku tidak bisa menghandlenya sendiri, ini lah momen bagiku untuk berusaha mempercayakan ke orang lain.
![]() |
| Segala puji hanya milik Allah yang telah menggerakkan hati hamba-hamba-Nya untuk bertransaksi dengan kami |
Malam itu, aku melihat usaha suamiku yang intorvert untuk melakukan hal yang terbaik yang bisa ia lakukan. Karena dia yang presentasi, maka dia lah yang mengusahakan segala sesuatunya. Dan hari itu, aku kembali mendapat pertolongan Allah lewat Mba Fira yang meminjamkan buku-buku anak. Karena keesokan harinya Hafshah akan kami titipkan ke temanku, tentu dia perlu hiburan berupa buku-buku.
Perjalanan ketiga: Bintaro - PIK 2
Pagi-pagi sekali kami berangkat dari penginapan kami. Sarapan di Bintaro agar murah kemudian menitipkan Hafshah ke rumah teman kami. Ternyata PIK 2 sejauh itu guys! Jauuuuh sekali.
Di acara ini, aku senang sekali melihat suamiku berjejaring dengan banyak orang. Pun sejujurnya aku juga senang bertemu banyak orang baru dari berbagai tempat dan universitas. Aku mungkin belum bisa berbuat banyak untuk suamiku, tetapi ini lah salah satu hal yang bisa aku lakukan untuk mendukungnya.
Yang aku rasakan dari perjalanan ini adalah: bukan kah pernikahan itu adalah wadah untuk bertumbuh bersama? Menyelaraskan mimpi dan keinginan agar tidak ada yang merasa tertinggal atau dikorbankan.
I have a big passion in academic writing and he has a huge concern in both waqf and nature. Suamiku mendapat manfaat dari acara ini, pun aku juga demikian.
Kalian ngerasa ga sih? Salah satu hal terberat dalam pernikahan itu adalah tentang menyelaraskan keinginan? Dan ketika hal itu tidak pernah dikomunikasikan, banyak pasangan yang memendam perasaan saling dongkol dan saling merasa dikorbankan.
Dan hari itu, walau impian besarku untuk kuliah ke LN belum terwujud, setidaknya aku telah mewujudkan impian yang lain: International Conference - with Mahram - without leavig my daughter.
Selama ini, aku melihat banyak contoh perempuan ikut konferensi kesana kemari tanpa mahram. Aku ingin ikut, tetapi aku tetap idealis harus bersama mahram. Aku ingin ikut, tetapi aku tidak ingin meninggalkan anakku. Dan Alhamdulillah, di hari itu, impianku terwujud.
Dari acara ini aku juga belajar bahwa di atas langit, masih ada langit. Ideku mungkin bagus, tetapi ide orang lain dan kepakaran orang lain jauh lebih bagus. Membuat aku sadar, aku masih jauh dari kata untuk menjadi yang terbaik karena orang lain sudah berkecimpung di dunia ini sejak lama.
Sore harinya, Hasfhah diantar ke lokasi acara oleh temanku. Sore itu juga kami bertolak ke Lembang bersama rombongan dari acara ini.
Perjalanan keempat: PIK 2 - Lembang
Kami sampai di Lembang sekitar pukul setengah 12 malam. Ada dua pilihan, menginap di Glamping atau di Hotel. Aku dan suami sepakat untuk tidak satu tempat agar bisa ngobrol dengan peserta lain. Suami di Glamping dan aku di Hotel.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, aku menuju area Glamping karena ingin tahu seperti apa tempatnya. Alhamdulillah, di sana aku mendapat kesempatan untuk mengobrol dengan banyak orang ketika makan. Suasana ini cukup berbeda dengan ketika makan di PIK2 yang mana ketika di sana, meja-meja makan orang penting jadi satu, sedangkan kami yang kurang penting, belum bisa satu meja dengan mereka.
Adapun di momen santai seperti ini, aku bisa duduk bersama ibu komisionaris BWI dan dosen-dosen lainnya. Begitu pula dengan suamiku yang mendapat kesempatan untuk berteman dengan lebih banyak orang lewat acara kunjungan ini.
Sebenarnya, aku sendiri lebih memaknai acara di Lembang ini sebagai jalan-jalan instead of acara serius hehe. Karena aku ini orang yang sangat pertimbangan, mau liburan aja sering ngerasa bersalah, acara liburan dibalut serius ini bikin aku ga ngerasa bersalah sama sekali udah spending money.
Jujur, dari acara ini aku melihat langsung wakaf yang dikelola dengan baik. Dan hebatnya, suamiku bisa fokus mendengarkan walau banyak peserta lain, termasuk aku, sudah lelah mendengarkan dan ingin jalan-jalan saja.
![]() |
| Fokus mendengarkan ketika yang lain sudah tidak fokus |
Ada percakapan yang membuat aku terharu sampai menangis. Yaitu ketika makan siang dan aku duduk bersama para ibu-ibu senior. Di sana ada salah seorang dosen di bidang gizi yang tadinya ketika anaknya kecil, tidak berkarir. Beliau lulusan S2 Belanda dan S3 Australi kemudian mengurus anak. Rasanya nyes sekali ketika beliau mengakatan, "Kesempatan jadi dosen ini datang ketika anak sudah besar. Ternyata kesempatannya datang lagi ketika aku sudah siap." - Au kama qal.
Rasanya terhibur sekali mendengar kalimat itu. Aku yang beberapa kali mungkin merasa tertinggal, masih punya harapan untuk mewujudkan impian-impian itu nanti ketika waktunya tepat.
Dan kalimat ini sebenarnya relate dengan ketakutan ibu yang khawatir tidak bisa mendapat kesempatan lagi jika ia melepas karirnya sekarang. Iya, banyak kan yang tidak mau resign karena takut ketika anaknya besar dan tidak terlalu membutuhkannya maka ia tidak bisa lagi berkarir?
Kalimat ibu itu menyadarkanku bahwa jika aku berusaha menuntaskan kewajibanku, maka Insyaa Allah akan Allah bukakan lagi kesempatannya nanti. Di saat yang tepat. Di saat yang terbaik menurut-Nya.
Perjalanan Kelima: Lembang - Bintaro
Kami sampai di Jakarta sekitar pukul 8 malam. Kami turun di Sudirman lalu memesan Gocar ke Bintaro. Di sana, kami disuguhkan dengan berbagai gedung pencakar langit dan infrasturktur megah lainnya.
Iya, Surabaya tidak ada apa-apanya jika dibanding Jakarta. Dan hal ini membuat aku sadar bahwa akses, event, dan kesempatan memang lebih terbuka lebar di Jakarta. Aku melihat orang-orang Jakarta lebih mudah mengikuti kegiatan ini itu karena memang adanya di sini. Namun, memang ada konsekuensi yang mereka bayar: waktu yang lebih lama di perjalanan setiap hari karena macet.
Selama ini, aku lebih suka di Surabaya karena kota besar ini tidak lah macet. Namun, lagi-lagi harus aku akui, untuk berbagai akses, event, dan kesempatan, mungkin memang lebih baik di Jakarta ketimbang di Surabaya.
Perjalanan Keenam: Bintaro - JICC
Hari ini adalah acara puncak dari konferensi ini. Acara seminar Internasional yang dihadiri pejabat penting, termasuk Menteri Agama. Memasuki acara ini dengan berbagai fasilitas mewahnya mengingatkan aku pada acara-acara Kemenkeu yang aku ikuti dulu.
Dan di sini aku sadar bahwa merasakan kemewahan ini sesekali membuat hati senang, tetapi jika diri disuguhkan pada hal yang berlebih setiap hari, mungkin aku akan merasa bersalah. Ingat postinganku sebelumnya di sini? Di tengah berbagai bencana yang terjadi di Indonesia, ternyata di Jakarta acara-acaranya diselenggarakan semewah ini.
Sebenarnya aku sendiri tidak mau menghakimi panitia. Aku mengerti bahwa ini adalah dilema antara penghematan dan kepantasan. Karena yang sering terjadi acaranya diselenggarakan dengan mewah, maka panitia akan merasa segan jika acara ini biasa-biasa saja. Apalagi judulnya International Seminar.
Dan fyi, acara seminar ini hanyalah satu di antara acara-acara lainnya di JICC kala itu. Terbanyang kan berapa rupiah yang habis untuk event Indonesia Shariah Economic Festival (ISEF) 2026 ini?
![]() |
| Tiap meja ada bunga asli begini. Tiap orang dapat souvenir sekotak besar. I just tought about the price. |
Di acara puncak ini, aku mendegarkan speech dari banyak orang penting, salah satunya adalah Menteri Agama saat ini. Jujur, ketika mendengarkan beliau, aku jadi tahu ternyata pemahaman beliau terhadap agama itu tidak seperti yang selama ini aku pikir. Framing beliau di media selama ini kan negatif ya? Ternyata beliau pun berpikiran maju dan komprehensif soal wakaf.
Pun dari sisi Bahasa Arab, beliau menjelaskan perbedaan dua kata yang mirip yang aku sendiri baru tahu faidah dua kata tersebut setelah beliau jelaskan. Aku jadi mendapat inisght untuk tidak mudah menilai orang lain dari media sebelum bertemu orangnya secara langsung.
Pengumuman Best Paper ada di acara ini. Dan Alhamdulillah aku tidak sedih sama sekali ketika nama kami tidak disebut. Aku malah bangga pada yang berhasil karena keduanya adalah temanku. Dan menurutku mereka memang pantas mendapatkannya karena papernya memang bagus Masyaa Allah.
Dan di kesempatan ini, aku senang melihat suamiku bersebelahan dengan petinggi Bank Indonesia ketika berfoto bersama. Benar-benar unforgettable moment Biidznillah.
Selepas acara ini, aku mampir dulu ke booth para finalis lomba bisnis. Ngobrol langsung dengan mereka membuat aku sadar bahwa di muka bumi ini ada lho orang-orang yang bekerja keras untuk keberlangsungan bisnisnya.
"Aku ikut kompetisi ini biar ada masukan aja sih kak. Soalnya kan kalau ngejalanin bisnis tuh kadang kita ngerasa kita udah hebat banget, padahal butuh mentor buat ngasih pendapat ini itu." - Au kama qal.
Perjalanan Ketujuh: Bintaro - JICC - Pejaten
Hari itu, sebenarnya acara puncak sudah selesai. Dan di hari itu, aku sebenarnya ingin ke Bogor untuk mengunjungi salah satu kebun. Namun, suamiku punya agenda ke JICC lagi untuk menuntaskan acara Waqf Investor Forum. Oleh karena itu, akhirnya kami semua ke JICC lagi karena aku juga takut ke Bogor sendiri membawa anak.
Selama suamiku mengikuti acara, aku duduk di playground karena kehabisan energi untuk membersamai Hafshah. Bagiku kala itu, playground adalah tempat ternyaman untuk duduk walau harus keluar uang agar Hafshah tetap terfasilitasi kebutuhan geraknya.
Ada apa sebenarnya di Muhajir Project? Ada Klub Buku Jum'at Sore. Klub buku yang cukup menarik karena selama pembahasan, HP harus dititpkan. Menariknya, selama perjalanan naik motor ke lokasi, aku ketar ketir karena jalanan Jum'at sore macet sekali dan bensin mau habis. Alhamdulillah, lagi-lagi Allah tolong dengan diberi petunjuk ke pembensin terdekat.
Dari acara ini aku mendapat faidah bahwa demikian pula lah dengan musibah. Bahwasanya informasi kita itu terbatas sehingga ketika terkena musibah, hendaklah kita kembalikan ke pemilik segala informasi agar kita menjadi objektif dalam memandangnya.
Aku juga mendapat faidah untuk menghindari membaca komen karena narasi seseorang sangat bisa memutarbalikkan pikiran kita.
Entahlah, aku merasa atmosfer di Muhajir Project ini lebih manusiawi hehe. Maksudnya gimana tu manusiawi? Aku merasa semua kalangan di rangkul di sini. Bahkan pengurusnya saja banyak yang tidak pakai cadar. Hal ini cukup berbeda dengan Surabaya yang masih meng-under estimate orang-orang yang belum bercadar.
Padahal, kita tahu cadar itu tidak wajib dan kondisi orang itu berbeda-beda. Namun, sedihnya, orang-orang yang tidak bercadar dianggap tidak berilmu atau malah dianggap anak kemarin sore. Sedih sebenarnya dengan fakta ini padahal semua lini itu tidak bisa disamaratakan harus bercadar. Ada lini-lini yang pintu masuknya memang bukan dari cadar.
Perjalanan Kedelapan: Bintaro - Blok M
Ini adalah hari terakhir kami di sini. Sebelum pulang, kami kajian Ustadz Nuzul dulu karena sudah lama sekali tidak ke kajian di blok M. Terakhir kali aku ke sini tahun 2023 dan ternyata saat itu sedang hamil Hafshah.
Dan kajian kali ini sungguh banjir air mata. Menyadarkan bahwa musibah dan kehilangan yang kita anggap sebagai kerugian itu sebenarnya bukanlah demikian hakikatnya. Ada kasih sayang Allah di sana karena semua adalah milik Allah.
Alih-alih sedih atas musibah atau kehilangan, seharusnya kita bersyukur karena pernah diberi hal tersebut di dunia. Simak sendiri aja deh. Bener-bener meringankan hati bagi orang yang sedang Allah uji.
![]() |
| Aku jatuh bangun karena kuliah di STAN. Namun, aku juga mendapat nikmat yang luar biasa karena kuliah di sana. |
Perjalanan Kedelapan: Kembali ke Surabaya
Aku tidak akan lupa betapa baiknya Allah yang telah mengatur segala perjalanan kami ini. Dengan segala pertolongan-Nya dan orang-orang yang Dia hadirkan untuk membantu kami.
Hari ini, perjalanan itu telah usai. Menjadi kenangan yang kami simpan dalam memori untuk kami kenang lagi betapa banyak nikmat berupa pelajaran berhara yang Allah beri kepada kami.
Di usia 30-an, manusia tidak lagi mencari kesempurnaan. Hanya berusaha bertahan hidup lewat segala episode kehidupan dan memaksa diri dalam ketaatan karena begitu banyak godaan.
Terima kasih ya Allah, maafkan kami yang masih banyak kurangnya sebagai hamba.
Selesai ditulis di waktu sunbathing
9 Jumadil Ula 1448H
.jpg)

.jpg)


.jpg)

.jpg)





























Comments
Post a Comment