The Sad Truth about Living Comfortably as Civil Servant: Guilty
Bismillahirrahmanirrahim
Kemarin aku COD emas di salah satu hotel di Surabaya. Kali ini customerku sebenarnya tinggal di luar kota tetapi dia sedang ada penugasan di Surabaya. Hotelnya bagus Masyaa Allah. Rasanya sudah lama sekali tidak merasakan atmosfer hotel seperti ini.
Atmosfer hotel ini mengingatkan aku pada kehidupanku di tahun 2019-2020, masa-masa aku baru bekerja sebagai PNS yang mana aku sering dinas luar dari Bali ke Jakarta. Naik pesawat Garuda, meningap di hotel ternama, dan mendapat fasilitas mewah lainnya. Apakah ada yang salah dengan itu semua?
Secara dhahir tidak ada yang salah. Aku beragkat dinas luar sungguhan, tidak ada ketentuan yang aku langgar, dan tidak ada biaya yang aku rekayasa. Semua sesuai prosedur dan bahkan beberapa hal langsung disediakan oleh pihak kepegawaian.
Namun, secara batin, aku merasa ada yang salah. Iya, aku merasa ada yang salah.
Perasaan salah ini muncul seiring dengan betapa nyamannya hidupku saat itu. Usia dua puluhan awal dan punya gaji yang tidak sedikit. Ditunjang dengan status sosial yang dipuja-puja dengan fasilitas ASN lainnya.
Ternyata hal yang menurutku salah itu berangkat karena aku merasa bersalah. Iya, sekali lagi, aku merasa bersalah.
Merasa bersalah pada siapa? Pada rakyat yang dari uang merekalah aku digaji.
Hidupku nyaman tetapi banyak rakyat kelaparan. Hidupku penuh fasilitas tetapi tidak sebanding dengan pekerjaanku yang tupoksinya biasa saja. Aku merasa overvalued saat itu. Dan ternyata perasaan merasa bersalah itu muncul karena aku merasa usahaku tidak sebanding dengan apa yang aku dapat.
Pekerjaanku tidak rumit, tetapi gajiku banyak. Bisa dibilang mungkin aku beruntung karena banyak orang banting tulang dan gaji mereka tidak seberapa, tetapi justru aku merasa bersalah.
Bagaimana bisa aku tidak merasa bersalah sedangkan menurutku perjalan dinas itu tidak efisien? Seorang pegawai diinapkan di hotel yang kala itu nominalnya sekitar 550rb per malam. Aku pernah diklat 10 hari dan tentu total biaya hotelnya mencapai sekitar 5-6 juta. Itu hanya untuk aku dan itu baru bicara tentang hotel. Bagaimana jika yang dibiayai jumlahnya banyak?
Menurutku, bekerja sebagai ASN (kala itu) rawan sekali jatuh dalam menghambur-hamburkan uang yang ada. Karena sumberdaya uangnya melimpah, tidak harus dihemat-hemat. Perjalanan dinas gas, capacity building ayok, beli ini itu untuk kantor ga masalah.
Like, dimana hati nuraniku jika aku tidak merasa bersalah? Jujur, aku pernah dibelikan kantor sebuah rok seharga 500rb. Aku lupa, sepertinya itu memang ada pengadaan seragam atau bagaimana, tetapi menurutku harganya kemahalan. Toh rokku yang harganya di bawah itu juga bagus. Kamu paham kan maksudku menyebut tidak efisien tadi?
Iya, ketika sumber dayanya berlimpah, manusia memang cenderung tidak efisien.
Dan sebenarnya ketidakefisienan itu terjadi bukan hanya di ranah organisasi, tetapi juga di ranah pribadi. Karena PNS itu pekerjaan yang aman, dalam arti dapat gaji tiap bulan dan sulit dipecat, kecenderungan seseorang itu memang tidak bijak dalam membelanjakan harta. Setidaknya, itu yang aku amati dan yang juga terjadi di banyak orang di sekitarku kala itu.
Makan siang, ke mall. Ada yang ultah, dirayain pakai makanan mewah. Belum nikah, gaji buat jalan-jalan ke luar negeri.
Iyaa, paham banget kok gajinya halal. Tapii, coba bayangkan pertanggungjawabannya di akhirat. Gajinya mungkin halal, tapi apakah berkah? Sedangkan kesempatan untuk korupsi waktu sangat banyak. Bayangkan nanti di akhirat ada jutaan rakyat Indonesia menuntut kita karena tidak terima uangnya dipakai menggaji karyawan yang foya-foya padahal sering korupsi waktu.
Perasaan bersalah itu juga aku rasakan ketika aku di kantor dan tugasku sudah selesai sedangkan jam kerja masih ada. Aku bingung. Melakukan hal yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan tentu tidak sesuai kode etik, tetapi diam saja juga pasti membuang usia.
Dari luar hidupku begitu indah: punya pekerjaan mentereng, gaji fantastis, status sosial, dll dsb. Namun, dari dalam, aku seringkali menjerit. Karena waktuku tidak optimal dengan kebermanfaatan yang terbatas akan aturan birokrasi.
Hari ini, mungkin ada sisi dari diriku yang rindu ingin punya segala hal yang aku miliki dulu. Namun, jika mengingat rasa bersalah itu lagi, aku rasa, diriku yang hari ini jauh lebih 'hidup' dengan segala hal dan potensi yang aku maksimalkan.
Aku bisa mengatur waktuku, memilih hal yang memang ingin aku lakukan, tidak terbentur birokrasi dan kode etik PNS, memperluas koneksi, memaksimalkan potensi, dan sebagainya dan sebagainya.
Masalah gaji dan status sosial, Kemenkeu memang juaranya. Namun, masalah kebebasan dan mengikuti jati diri, hidupku yang hari ini lebih menyenangkan. Siapa sangka aku bisa membuka kelas finansial, jadi pengajar Bahasa Arab, punya usaha jual beli emas, sambil bisa mengasuh anak?
Kalau bukan karena kasih sayang Allah, aku tidak akan mampu sampai ke titik ini.
Dan aku akan selalu meningat firman-Nya, "Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik."
Kemenkeu bukan tempat yang buruk, tetapi aku meninggalkannya karena Islam memerintahkan tidak bekerja di luar rumah dan ikhtilat selagi tidak terpaksa. Hari ini, mungkin secara duniawi, ganti yang Allah beri itu belum sementereng Kemenkeu, tetapi aku yakin, Allah akan cukupkan rezeki kami, walau tanpa status sosial sekalipun.
Selesai ditulis di keheningan malam
14 Rabi'ul Tsani 1448H
Comments
Post a Comment