Bersafarlah agar Mendapat Banyak Pelajaran!
Bismillahirrahmanirrahim
Safar itu tidak mudah. Dan dari safar kita akan mendapat banyak pelajaran.
Demikianlah mungkin yang bisa aku simpulkan dari perjalanan kemarin. Dengan berbagai nikmat dan ujian yang Allah pergilirkan, rasanya terlalu sayang jika tidak aku rekam jejaknya di sini.
![]() |
| Menyiapkan amunisi di kereta |
Kami berangkat naik kereta malam. Perjalanan sekitar 10 jam dengan memesan hanya dua kursi karena Hafshah under age untuk dapat kursi sendiri. Perjalanan kali ini membuat kami shalat Subuh di kereta. Membuat aku paham pelajaran pertama.
Aku mengantri dengan beberapa anak muda. Sepertinya mereka adalah mahasiswi LIPIA. Aku belum bisa memastikan karena tidak bertanya. Namun, kalau bukan LIPIA mungkin kampus Islam lain di Jakarta.
Yang membuat aku merenung adalah karena sepertinya mereka safar tanpa diantar orang tua. Yang artinya mereka safar tanpa mahram. Baik, aku tidak akan menghakimi orang di sini. Barangkali orang tuanya tidak punya dana lebih untuk mengantar putrinya ke ibukota sehingga anaknya harus berangkat sendiri. Iya, tiket kereta saat ini tidak murah, jauh berbeda dengan zaman ketika aku menjadi mahasiswa dulu.
Namun, dari pertemuan ini aku jadi merenungkan tentang pendidikan Hafshah kedepan. Dan hal ini telah aku sampaikan ke Lopi saat kami duduk di kereta. Bahwasanya karena Hafshah perempuan, apabila kami ingin dia mendapat kampus terbaik baik dari sisi dunia (UI/ITB) maupun agama (LIPIA), mungkin baiknya kami harus pindah ke Jabodetabek agar memudahkan mengantar jemput Hafshah.
Karena jika kami tetap di Surabaya, biaya antar jemputnya sangat mencekik sedangkan kami tidak ingin Hafshah pergi dan pulang sendiri tanpa mahram.
Namun, pindah ke Jabodetabek itu berat. Jujur aku saat ini lebih suka tinggal di Surabaya dengan berbagai pertimbangan yang pernah aku ceritakan di postingan-postingan sebelumnya. Oleh karena itu, mungkin opsi lainnya adalah kami perlu untuk tidak berekspektasi lebih pada pencapaian hidup Hafshah nanti.
Maksudnya adalah jika kami tetap tinggal di Surabaya maka mungkin kami akan mengarahkan Hafshah memilih kampus-kampus yang ada di sini. Bisa Unair/ITS untuk bidang dunia, atau STAI Ali/STDIIS/ kampus Salafi lain untuk bidang agama.
Tujuan aku menulis ini adalah untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa ini hanyalah dunia. Semisal Allah beri Hafshah kelebihan di bidang akademik yang membuat dia sebenarnya mampu meraih kampus terbaik, tetapi jika kondisinya tidak memungkinkan untuk mengantar jemputnya, maka opsi terbaiknya mungkin adalah memilih kampus di sekitar tempat kami tinggal.
Aku tidak ingin Hafshah merasakan apa yang aku rasakan dan mungkin dirasakan oleh mayoritas perempuan. Sistem sekolah yang mengkotak-kotakkan unggul dan tidak unggul membuat seorang perempuan yang sering berprestasi merasa punya high value dan pantas mendapat kesempatan-kesempatan hidup terbaik.
Padahal, hidup tidak sesederhana itu. Dan padahal, ini hanyalah dunia. Dan padahal juga, perempuan itu tidak diciptakan untuk berlomba meraih dunia lewat karir/jabatan/kesempatan dunia terbaik lainnya.
Dan aku pernah merasakan sakitnya perasaan telah meraih banyak hal tetapi tidak menjadi siapa-siapa itu di sini.
Pelajaran kedua yang sebenarnya masih nyambung dengan pelajaran pertama adalah hidup itu mudah jika kita tidak punya keinginan untuk menjadi 'seseorang'.
Iya, hidup itu sesimpel itu. Ketika kita tidak merasa diri high value dan tidak punya perasaan pantas mendapat kesempatan-kesempatan terbaik, maka takdir apapun yang kita lalui akan mudah kita terima. Pun ketika Allah takdirkan tidak menjadi siapa-siapa.
Sebagaimana sering aku ceritakan di postingan-postingan sebelumnya, yang membuat hati ribet dan bersedih adalah ketika tidak hidup dalam ekspektasi yang dibangun selama ini.
Ekspektasi kebanyakan manusia: kaya, terpandang, punya power. Dan untuk mendapatkan itu banyak orang berebut. Banyak orang lelah dan mencurahkan tenaga/waktu/pikiran untuk mengejar ekspektasinya itu. Dan ketika ia telah mendapatkannya, ketika ia sudah dipandang hebat oleh society, apakah ia akan merasa puas? Tentu tidak! Ada yang namanya hedonic treadmill, konsep ketika diri merasa puas sesaat dengan hal yang telah diraih kemudian beradaptasi dengan kondisi baru itu lalu perlahan hal yang diraih itu menjadi biasa saja dan ia menginginkan hal lain untuk dicapai.
"Ya memangnya mengapa sih kalau kamu ga jadi siapa-siapa? Allah tidak menyuruhmu kecuali menjadi hamba yang bertakwa."
Nasihat di atas membuat aku tersadar untuk tidak lagi berekspektasi lebih. Bahwasanya tidak ada yang salah dengan hidupku dan hidupku baik-baik saja walau aku tidak kaya, tidak terpandang, dan tidak punya power.
Dan ternyata kebahagiaan itu ada pada penerimaan hati. Menerima bahwa dengan segala potensi yang Allah titipkan selama ini mungkin tidak berakhir menjadi kaya/terpandang/punya power, tetapi berakhir menjadi hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan sekitar, walau lingkupnya kecil sekalipun.
Dan ternyata juga, kondisi tidak kaya/terpandang/punya power ini sebenarnya adalah sebuah privilege untuk tidak melekat pada apapun. Ketika dihadapkan pada masalah maka kita tidak akan mengandalkan kekayaan/status sosial/power yang kita miliki karena memang kita tidak memilikinya. Yang ada adalah kita akan menggantungkan hati pada Allah dan yakin semua pertolongan itu dari Allah karena sebab-sebab kehebatan yang kita miliki pun tidak ada.
| Kamu tidak akan paham yang aku maksud sampai kamu menyaksikannya sendiri |
Baru dua pelajaran aja udah panjang ya hehe. Ya namanya juga lagi menuangkan renungan. Pasti panjang dan lebih deep soalnya kalau singkat-singkat ga akan nyampai pesannya.
Sekarang masuk ke pelajaran ketiga: Aku belajar bahwa mengunjungi sesuatu secara langsung akan membuat kita melihat sendiri kondisi sesuatu itu yang sebenarnya.
Jadi pelajaran ketiga ini adalah karena kami kemarin mengunjungi Muhajir. Di sana ada Roots & Grow, Muhajir Store, Muhajir Safar, Muhajir Pendidikan, Muhajir Peduli, Maktabah Muhajir, dll dsb.
Selama ini kami hanya tahu Muhajir lewat medsos. Ya walaupun aku pernah ikut beberapa acara Muhajir secara intens di tahun 2017-2019, tetapi it was so long time ago sehingga informasi-informasi berkaitan dengan Muhajir hanya aku dapat lewat medsos saja. Dan selama ini mungkin yang aku tangkap adalah orang-orang di sekitar ustadz adalah orang berada. Padahal kenyataannya, ketika kami langsung ke sana, orang-orang di sekitar ustadz itu beragam.
Dan di sanalah aku merasa senang. Aku senang ketika mengetahui bahwa orang-orang di sekitar ustadz ada yang tidak kayak seperti aku. Aku senang ketika mengetahui orang lain juga stuggle sama sepertiku.
Bukan bermaksud bahagia di atas perjuangan mereka, tetapi lebih ke rasa bahagia karena realitanya, manusia itu memang berjuang. Dan hidup yang aku lalui ini memang sesuai dengan realita. Bahwasanya bukan aku sendiri saja yang berjuang, tetapi banyak orang juga berjuang.
Dan ini sebenarnya mirip dengan seseorang yang aku kunjungi beberapa bulan yang lalu. Di medsos kehidupan beliau terlihat begitu indah dengan prinsip-prinsip hidup yang beliau pegang. Namun, ketika duduk di rumah beliau, aku baru tahu bahwa beliau juga mengalami realita kehidupan yang bernama perjuangan. Bukan ornag yang ongkang-ongkang kaki dan tinggal menikmati hidup, tetapi beliau berjuang di segala sisi dengan keidealisan yang keluarga beliau miliki.
Kala itu, setelah mengunjungi rumah beliau aku menulis di diary:
"Tidak perlu malu jika tidak Allah angkat derajat lewat harta dunia karena jalan Allah mengangkat derajat seorang hamba itu berbeda-beda."
Dan beliau ini tidak punya kelebihan dalam harta tetapi Allah beri taufik untuk tetap idealis membesarkan anak sesuai visi misi keluarga yang jujur aku baru pertama kali ini bertemu dengan keluarga yang masih idealis walau sudah berjalan belasan tahun. Karena umumnya keluarga yang aku tahu adalah mereka yang semangat di awal dan luntur kemudian. Lama-lama menjadi keluarga pada umumnya yang menjalani hidup sebagaimana orang kebanyakan.
| Asiik beli buku baru. Pakai uang Hafshah sendiri karena uang bapak ibu sudah menipis Dan bukunya sangatlah worth it Masyaa Allah |
Pelajaran keempat: Menikahlah dengan laki-laki yang stabil emosinya.
Lagi-lagi karena safar itu berat dan bahkan ada hadits Nabi yang mengatakan bahwa safar adalah separuh adzab, berpergian dengan suami yang stabil emosinya itu sangat meringankan adzab tersebut.
Jujur perjalanan kali ini tidak mudah. Aku sudah cerita di postingan sebelumnya bahwa uang kami sangat tipis ketika berangkat. Tiket kereta mahal. Aku sudah bertekat untuk hemat ketika di Jakarta.
Namun, apa yang terjadi? Karena kami bertiga dan Lopi tidak ridha aku naik gojek, kemana-mana akhirnya kami naik gocar yang mana biayanya sangat menguras dompet. Pernah kami mau naik KRL, ternyata Lopi tidak bawa kartu apapun karena kartu-kartu itu diturunkan dari tas ketika mau berangkat.
Belum lagi bawa anak toddler itu banyak ujiannya. Hafshah suka kesana kemari saat di kereta. Hafshah mau duduk sendiri, ga mau dipangku bapak/ibu. Hafshah lari-lari sampai kami diingatkan sekuriti. Hafshah mondar-mandir deket kolam renang sampai aku berbusa-busa biar dia ga kecemplung. Hafshah rame ga jelas saat ada orang diskusi. Hafshah pingin pakai ini pakai itu yang ribetnya selangit. Hafshah ngompol. Dan yang paling gong adalah Hafshah mecahin gelas saat kami makan di restoran.
Tapi untung Lopi stabil emosinya. Bahkan mungkin ketika dia sudah lelah dan bete, dia tidak menunjukkan itu di hadapanku. Ketika kami bingung menginap dimana, dia lebih memilih mencari solusi. Ketika dia salah ambil keputusan, dia segera ambil keputusan lain supaya tidak semakin rumit urusannya.
Ya, intinya safar itu berat sehingga bersafarlah dengan orang yang tepat #ytta.
| Makasih Lopi udah milihin tempat di sini Maaf norak, udah lama ga nginep di tempat bagus, terakhir kali pas masih jadi PNS tahun 2020 |
Pelajaran kelima: Allah Maha Mengatur segalanya.
Di perjalanan safar kali ini, aku tidak banyak menemui teman. Aku hanya bertemu seorang murid di hari Jum'at dan kemudian salah seorang teman di hari Sabtu menjelang pulang ke Surabaya. Ternyata Jakarta telah berbeda rasa ketika teman-teman sudah memiliki kehidupannya masing-masing.
Namun, siapa sangka, kepergianku ke Jakarta mungkin adalah jawaban bagi kegalauan seseorang yang butuh dikuatkan. Ketika dia tidak tahu harus bertanya ke siapa dan ketika dia tidak tahu langkah apa yang harus diambil.
Iya, karena tidak ada yang kebetulan dalam kehidupan ini bukan? Safar yang mendadak ini timeline nya sangat tepat dengan apa yang dibutuhkan temanku.
Hal ini membuat aku sadar bahwa takdir Allah tidak mungkin salah. Walau tadinya aku merasa kepergian ke Jakarta ini sangat mendadak dan butuh uang banyak, tetapi jika Allah takdirkan maka pasti Allah bantu wujudkan.
Kepergianku bukan hanya berkaitan dengan diriku atau keluargaku saja. Namun juga ada temanku yang terbantu, ada pak gocar yang mendapat penumpang, ada bakul bakso dan nasi goreng yang mendapat pelanggan, ada penginapan yang menjadi jatah rezeki kami di malam itu, ada hadiah yang sampai ke tangan kami, ada ibu-ibu yang mendapat teman ngobrol, dan segala hal yang telah Allah gariskan tanpa ada kata 'kebetulan' di dalamya.
| Dulu kalau dinas ke Jakarta, ga pingin cepet pulang. Sekarang kalau urusan dah beres, cepet pulang aja deh |
Senang bisa berjumpa denganmu, Jakarta!
Semoga kita bisa berjumpa lagi di lain waktu.
Selesai ditulis menjelang Hafshah bangun,
11 Rabi'ul Awwal 1448H

Comments
Post a Comment