Membangun Usaha Sekaligus S2

Bismillahirrahmanirrahim

Helo everyone! Lama tak menulis di sini. Setelah sekian banyak episode yang Allah takdirkan dalam hidup, rasanya ingin menepi sebentar ke sini untuk menceritakan apa yang ada di kepala agar bisa dibaca lagi suatu hari nanti.

So, here we go!

Di rumah salah satu customer kala itu


Update terbaru dari kehidupanku adalah:

Satu, aku tetap jualan emas.
Dua, aku daftar S2.

What? Se-tiba-tiba itu ada dua agenda besar sekaligus dalam hidup?

Bentar, akan aku ceritakan satu per satu.

Tidak selalu mudah mempertahankan idealisme


Ada hati yang sangat terhibur mendengar nasihat ini


Tahun ini adalah tahun kelima aku resign. Tahun kelima aku melepas identitas sebagai pegawai Kementerian Keuangan. Tahun kelima aku melepas segala prestis dan status sosial yang diimpikan banyak orang itu.

Jujur, ada masa-masa tidak mudah yang aku alami yang membuat aku berpikir, "Senekat itu aku resign?"

Perasaan ini muncul ketika setan sudah bermain dan membuat aku merasa tidak berdaya ketika 'tidak menjadi siapa-siapa'. Kalian boleh men-judge aku, tetapi ketahuilah, tidak mudah menjadi orang yang tadinya selalu berprestasi kemudian tidak punya pencapaian yang terlihat. Terlebih jika teman-teman sekolahmu sudah jadi orang. Padahal dulu di sekolah kamu lebih berprestasi dari mereka.

Baik, aku tahu, narasi-narasi di luar sana mengatakan bahwa "Biarlah tidak ada yang mengapresiasi ibu, biarlah ibu tidak terlihat pencapaiannya, biarlah ini biarlah begitu."

Iya, aku tahu. Itu kondisi idealnya. Dan aku juga meyakini harusnya seperti itu.

Namun, sekali lagi, tidak mudah bagi aku yang overachievement sejak kecil lalu tiba-tiba tanpa pencapaian yang terlihat. Aku butuh suatu pencapaian yang bisa dilihat. Karena ternyata ketika aku tidak punya pencapaian yang tidak terlihat itu, aku jadi rentan marah-marah. Aku jadi rentan menyalahkan keadaan. Aku jadi rentan menyesal. Aku jadi rentan menyakiti psikis diriku sendiri maupun suami dan anakku.

Bahkan aku pernah menangis sejadi-jadinya kepada suamiku dengan mengatakan, "Aku ini terus dulu buat apa pinter di sekolah? Lanjut kuliah di LN engga, punya xxx juga engga." (Punten ya xxx perlu aku samarkan biar kalian ga tahu maksudku secara detail).

Aku nangis kejer karena aku merasa, "Ya Allah, aku sudah meninggalkan Kementerian Keuangan. Tolong gantikan dengan yang lebih baik Ya Allah."

Harusnya aku banyak mengingat kebaikan-kebaikan yang sudah Allah beri kepadaku

Tentu Allah sudah memberi ganti banyak hal. Kalau tidak resign mungkin aku belum punya anak, kalau tidak resign mungkin ibuku akan tetap sendirian di Surabaya, kalau tidak resign mungkin impianku menjadi pengajar akan lama tercapai. Iya, gantinya sudah banyak, tetapi jujur sebagai manusia biasa aku juga punya hawa nafsu yang menginginkan kenyamanan hidup seperti ketika masih bekerja di Kementerian Keuangan dulu.

Hal ini diperparah dengan hadirnya perempuan-perempuan yang terlihat baik-baik saja walaupun bekerja kantoran tanpa udzur syar'i. Kalau kalian ingat tulisanku di sini, kalian aku tahu betapa teririsnya hatiku melihat fenomena tersebut. Males aku ceritakan ulang, baca aja di situ ya.

Ya Allah, tolong berkahilah usaha ini

So, aku rasa dagang emas adalah jalan tengahnya.

Aku tidak jadi berhenti dagang emas karena:
1. Aku merasa punya pencapaian duniawi 
2. Karena sebab itu aku jadi lebih merasa berharga
3. Suami dan anakku juga ikut bahagia kalau aku ga marah-marah
4. Ibu dan mertuaku sangat senang melihat jalannya usaha kami
5. Usaha ini bisa memberi income sekaligus membuat aku tidak terpisah jauh dari Hafshah

Biarlah seperti ini dulu kondisinya. Tolong doakan aku yang sedang berproses ini ya. Aku tidak ideal dan aku masih belajar untuk bisa menjadi ideal.

Alhamdulillah, terima kasih ya Nak sudah hadir di hidup kami

Semoga Hafshah menjadi anak yang shalihah, muslihah, shabirah, dan halimah

Kalau Hafshah tidak hadir dalam hidup ibu, mungkin ibu tidak akan tahu rasanya playdate


Dan terkait kuliah S2, kalian pasti tahu aku suka belajar. Ga disuruh pun aku bakal inisiatif belajar sendiri. Bahkan pernah aku dilarang suamiku belajar pas aku sakit dan aku masih ingin belajar. Geleng-geleng banget ga sih kalau jadi suamiku? Punya istri hobi banget pacaran sama buku.

Dan jujur aku ga puas jika berhenti di S1. Aku ingin S2 dan kalau bisa S3 sekalian. Buat orang lain mungkin ga penting. Tapi bagiku, pendidikan lebih tinggi itu penting.

Kalian juga mungkin sudah tahu aku pernah cerita bahwa aku daftar S2 ke Saudi sebelum hamil. Aku udah cerita diterima di KSU di sini dan juga di sini tapi aku belum cerita lanjutannya. Waktu itu aku mau nulis lanjutannya tapi ya sudahlah hehe.

Intinya adalah KSU berubah haluan jadi kampus teknik sehingga semua pelamar jurusan non-science ditolak hehe. Jadi yang awalnya statusnya under processing, qadarullah jadi rejected deh.

Satu-satunya dokumentasi KSU di web yang masih tersimpan, lainnya sudah terhapus


Bukti nyata sudah ambis sejak jaman baheula


Di satu sisi aku sedih tapi di sisi lain aku lega. Lega karena akhirnya kami tidak lagi pusing memikirkan bagaimana karir suamiku. Lega karena aku tidak jadi pontang-panting di negeri orang untuk kuliah sambil ngurus anak. Iya, mungkin memang bukan jalan kami.

Dan setelah proses perenungan yang panjang, aku mengambil keputusan untuk menjadi Master Student of Arabic Language IOU.

Mengapa Arabic Language? Karena aku guru Bahasa Arab yang butuh improvement agar tidak menyesatkan murid-muridku. Pun juga aku rasa tidak cukup hanya belajar di ranah informal. Jika aku serius menjadi guru Bahasa Arab, maka aku harus belajar di ranah formal juga.

Mengapa IOU? Karena bisa part time. Bisa ambil 3 matkul saja satu semester. Iya mungkin lulusnya lebih lama tetapi hatiku jadi lebih lega karena tidak grusa grusu belajar. Terlebih IOU adalah kampus global. Memang tidak sekeren KSU, tapi semoga dengan kuliah di sini, jadi membuka channel ke rekan-rekan di luar negeri.

Tentu di IOU tidak boleh double degree sehingga aku melepas studi S1 Psikologiku. Setelah aku renungkan selama cuti kuliah kemarin, aku sepertinya tidak cocok di Psikologi karena aku butuh belajar sesuatu yang menggunakan logika sebagaimana pernah aku bahas tentang bakat di sini.

Bagiku S2 IOU ini adalah jalan tengah yang mengakomodir kebutuhan keluarga kami. Aku butuh belajar, anakku butuh aku, suamiku butuh istrinya ga marah-marah. Dan yang aku rasakan, dengan kuliah lagi tu bikin aku less scrolling. Aku ingin waktuku lebih bermanfaat. Daripada scrolling ga menghasilkan apa-apa mending aku ngisi waktu buat S2.

Kata orang, di masa depan kita tidak akan menyesali kegagalan, tetapi kita akan menyesali hal yang tidak pernah kita coba. Dan aku ga ingin itu terjadi. Aku tidak ingin menyalahkan kehadiran anak jika aku sampai tidak sempat S2. Kalau aku punya mimpi, maka yang memperjuangkan mimpi itu adalah aku, bukan aku bebankan ke anakku. Aku tidak ingin jadi orang tua yang menuntut anak mewujudkan mimpiku karena aku tidak sempan mewujudkannya.

Jujur, aku sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberi kelapangan hati bagiku untuk menerima jalan ini. Tidak lagi berpikir prestis tidaknya, tetapi lebih berpikir bagaimana jalan tengahnya. Refleksi tentang itu selengkapnya pernah aku tulis di sini.

Bisa menerima untuk tidak S2 LN saat ini

Alhamdulillah sudah aku ceritakan semuanya.
Lega sudah isi pikiran ini. Suka banget cerita di sini biar suatu hari bisa aku kenang dan aku ambil hikmahnya.

Selesai ditulis di jam-jam belajar
5 Ramadhan 1447H

Siapin tissue, bentar lagi aku mau share percakapanku sama AI.

Ketika aku mempertanyakan apa aku layak S2 Arabic Language

Balasanku ke AI, emang perempuan sering cari validasi

Jawaban AI (1)

Jawaban AI (2)

Jawaban AI (3)

Jawaban AI (4)


Masih ragu

Aku setuju banget poin nomor dua

Hwaaa

Tissue mana tissue

Dear me, always remember why you started











Comments

Popular posts from this blog

Resign untuk Kedua Kalinya

Bukan Sekedar Pindah ke Kontrakan

Parents Live Talk: Regulasi Emosi Ibu bersama dr. Pinansia Fiska Poetri

Sistem Sekolah: Dulu Tidak Ada Yang Memberitahu Aku Tentang Ini

Belajar dari Senior Homeschooling