Bagaimana Rasanya Diterima di KSU?


Bismillahirrahmanirrahim

Ada hal yang begitu membuat aku terkejut di bulan Oktober 2024 lalu. Yaitu sebuah email yang tiba-tiba masuk dan kemudian membuat aku pilu




Iya email ini meminta aku mengisi data untuk keperluan calling visa untuk kuliah di KSU. Aku sangat takut membicarakan ini ke suami karena aku takut dia tidak mengizinkan aku membalas email itu. Aku takut suamiku berkata, 

"Udah ga usah..."
"Sekolah lagi emang mau dibuat apa?"
"Tujuan hidupmu apa?"

dan semisalnya yang membuat hatiku getir karena takut akan penolakan dari suamiku.

Namun, di luar dugaan. Ketika aku mencoba menyampaikan ini ke suamiku, beliau mengizinkan aku membalas email itu :')))

"Ini tu life experience yang ga akan dirasakan semua orang"
"Ada kesempatan haji pakai kuota Saudi kalau kita tinggal di sana"
"Hafshah akan punya pengalaman hidup yang luar biasa nih. ASemoga dia bisa ngerasain persami di gurun"

Ternyata kalimat-kalimat inilah yang muncul dalam perbincangan kami.

Ketakutan demi ketakutan kemudian menghampiri hatiku. Ada banyak sekali ketidakmungkinan yang memenuhi kepalaku. Jujur, aku ingin lanjut kuliah S2. Terlebih ini di Saudi, di negara yang aku impi-impikan untuk tinggal di sana. Namun, aku tidak sanggup berjauhan dengan suami dan anakku. Karena hanya aku yang akan mendapat calling visa dari kampus, mungkinkah mereka bisa ikut aku ke Saudi? Pertanyaan yang berulang kali menghantui pikiranku.



Iya, tiba-tiba aku merasa sangat takut kehilangan mereka. Takut berjauhan dengan Hafshah yang masih sangat membutuhkan aku. 

Aku akan mencoba menjelaskan berbagai ketakutanku. Sebagai bahan bacaan di kemudian hari bahwa satu per satu rasa takut dan kemustahilan yang ada di pikiranku ternyata telah Allah selesaikan pada waktu yang Allah tetapkan.

Pertama, aku takut tidak bisa mengikuti kuliahnya karena ternyata kuliahnya pakai Bahasa Arab. Iya benar aku sudah belajar Bahasa Arab, tetapi kalau disuruh ngomong ya aku masih terbata-bata. Aku sangat takut nanti ter-DO dari KSU karena aku yang ga paham bahasanya. Bahkan aku sempat berpikir untuk ganti jurusan ke jurusan Ekonomi/Bisnis yang semoga kedua jurusan itu pakai Bahasa Inggris. 

Namun, perlahan satu per satu informasi datang kepadaku untuk menguatkan aku tetap maju memilih KSU. Kata temanku, Anissa dari Pekanbaru, yang juga mendapat email itu,

"Kemarin aku juga curhat ke teman bahwa aku takut ga bisa bahasanya. Namun, temanku bilang bahwa betapa banyak orang Indo yang ga lancar ngomong Bahasa Arab tapi lulusnya cumluade. Cara belajar orang beda-beda. Bisa jadi mereka seperti itu karena mengulang dan membaca pelajaran selesai kuliah." (20/11/24)

Deg...Iya juga. Jaman aku kuliah di STAN dulu, skill berbahasa apa sih yang paling aku butuhkan? Ternyata bukan berbicara, tetapi membaca. Iya, biidznillah karena aku sering baca materi kuliah, Allah mudahkan aku lulus dengan nilai yang baik.

Dan perihal membaca, Alhamdulillah Allah telah izinkan aku latihan membaca kitab selama beberapa tahun terakhir. It wouldn't be easy, but I think aku sudah punya pengalaman bagaimana cara membaca kitab yang benar.

Terlebih, setelah kemarin (27/11/24) suamiku menelepon Mas Affan yang kini sedang kuliah S3 di jurusan yang sama dengaku, beliau mengatakan bahwa yang penting baca dan nulisnya kuat. Beliau yang sudah 12 tahun di Saudi saja juga kadang ga paham dosen ngomong apa. Namun, asal bisa baca, nulis, dan mau nekat, Insyaa Allah perkuliahan ini akan bisa dilalui.

Fun fact, gara-gara tahu mau kuliah pakai Bahasa Arab, aku jadi lebih semangat belajar Bahasa Arab. utamanya speaking. Alhamdulillah, Allah kasih aku jalan untuk gabung di grup telegram yang isinya para akhwat dari berbagai negara yang ingin belajar Bahasa Arab. Masyaa Allah, mereka tu pada jago-jago ngomong. Padahal baru belajar ABY.

Jadwal teleponan sama mereka paling oke tu tengah malem. Soalnya Hafshah udah tidur dan di sana mereka masih belum jam tidur. Biidznillah punya teman dari Inggris, Uzbekistan, Kazakhstan, Somalia, Russia, Turki, dll.



Kedua, living cost yang mahal kalau bawa keluarga. Fyi, kuliah di KSU itu semuanya gratis bagi si penerima beasiswa. Bahkan dapet asrama juga. Namun, kalau bawa keluarga tentu harus cari suqqoh  sendiri di luar kampus. Yang mana biaya sewanya kurang lebih 20.000 SAR per tahun alias kurleb 80jt rupiah.

Jujur aku takut banget sih masalah ini. Uang dari mana coba 80jt setahun? Mana kuliah S2 di jurusanku kurleb 4 tahun. Uang dari mana coba sebanyak itu hanya untuk tempat tinggal?

Ada sih tempat tinggal gratis bagi mahasiswa yang berkeluarga, tetapi itu katanya sih ga bisa semuanya dapet. Nah, aku udah ovt duluan tu. Gimana kalau ga dapet? Kami harus tinggal dimanaaa

Namun, perlahan rasa takutku Allah jawab. Suatu hari Anissa bilang kurleb gini,
"Aku seneng lho ada mbak yang juga keterima KSU karena mbak juga udah berkeluarga. Kalau misal nanti ga dapet tempat tinggal gratis untuk keluarga, pingin sewa suqqoh bareng sama mbak trus nanti biayanya kita bagi dua." (20/11/24)

Terlebih, kemarin (29/11/24) dari webinar studi di KSU, Ustadz Saiful Awwal hafidzahullah menjelaskan bahwa mahasiswa Indo di KSU itu dikit. Ga sebanyak di UIM. Misal separuhnya aja yang nikah, itu Insyaa Allah bisa dapet tempat tinggal gratis semua. Namun, tentu butuh waktu. Mungkin di awal memang harus cari tempat tinggal di luar dulu tapi nanti perlahan bisa dapat tempat tinggal gratis itu.



Ketiga, suamiku mau kerja apa di sanaaaa. Huaaa jujur ini yang paling bikin overthinking karena ya gimana cara dapet kerja yang layak di sana? Seperti aku ceritakan di atas, kalau bawa keluarga tu biayanya jadi besar banget. Selain living cost, ada biaya visa yang ditanggung sendiri. Itu pun visanya bukan untuk menetap, tapi ziarah, yang mana harus keluar Saudi tiap 3 bulan.

Uang bulanan beasiswa di KSU ga sebanyak itu untuk meng-cover biaya hidup satu keluarga. Kalau suamiku ga dapet kerja di Saudi, biaya visanya akan sangat membengkak karena kami yang nanggung sendiri. 

Adapun kalau suamiku dapet kerja di perusahaan Saudi, Insyaa Allah dia bisa narik Hafshah untuk dapet visa juga. Dan yang seperti ini jatuhnya akan jauh lebih murah.

Huaaa jujur yang satu ini belum ketemu jawabannya. Kami udah melakukan test mapping untuk tahu bakat terbaik yang dimiliki suamiku. Alhamdulillah kami mendapat jawaban bahwa suamiku kelebihannya ada di bidang spasial. Namun, pekerjaan apa yang cocok untuk kelebihan di bidang ini dan bagaimana cara mendapatkannya?

Ya Allah, tolong kami dalam masalah ini Ya Rabb. Jika KSU memang jalan kami, tolong mudahkanlah.

---

Ditulis di penghujung November 2024
28 Jumadil 'Ula 1446H

Comments

Popular posts from this blog

Resign untuk Kedua Kalinya

Bukan Sekedar Pindah ke Kontrakan

Parents Live Talk: Regulasi Emosi Ibu bersama dr. Pinansia Fiska Poetri

Sistem Sekolah: Dulu Tidak Ada Yang Memberitahu Aku Tentang Ini

Belajar dari Senior Homeschooling