Toilet Training: Akhirnya di Fase Ini Juga

Bismillahirrahmanirrahim

Hai blog, long time no see. Jujur, rasanya waktu 24 sehari itu kurang karena banyaknya urusan yang aku lakukan. Mulai dari mengurus anak dan suami, belajar S2, sampai urusan dagang. Sampai-sampai aku sudah jarang sekali cerita di sini. Padahal cerita di sini adalah cara bagiku untuk jujur dengan segala proses kehidupan yang aku lalui. Dan kali ini, aku ingin bercerita jujur tentang Toilet Training yang sedang kami mulai.

Bermain sepeda: Koordinasi Bilateral


Hafshah saat ini berusia 29 bulan. Sejak sekitar 3 bulan yang lalu, yaitu seingatku sekitar Ramadhan dan Syawwal, Alhamdulillah Hafshah sudah lancar berbicara. Sudah bisa cerita dengan jelas dan mengutarakan maksud hati/pikirannya. Kala itu juga, Hafshah beberapa kali mengatakan "Hafshah mau pipis" yang artinya sebenarnya Hafshah siap untuk mulai toilet training.

Waw, secepat itukah?

Sayangnya, aku kala itu tidak siap. Aku tidak siap secara mental untuk mengurus drama mengompol atau najis dimana-mana. Harus aku akui aku salah. Namun, itulah kapasitasku kala itu di tengah bisnis yang baru jalan dan kuliah S2 yang baru mulai. Lagipula, kami baru selesai sapih waktu itu sehingga aku ingin beristirahat dulu dari segala transisi kehidupan yang terjadi.

Hafshah berdiri di antara kelas bapak & ibu

Kakak Hafshah udah keliatan besar sekali

Entah mengapa, awal pekan ini hatiku bergejolak. Aku merasa bersalah karena telah menunda toilet training yang harusnya bisa aku mulai sejak beberapa bulan yang lalu. Hafshah kini tidak lagi mengatakan "Hafshah mau pipis" yang mana menurutku itu adalah fase regresi. Aku sedih dan merasa bersalah sekali.

Salah satu yang membuat aku sedih adalah karena harusnya pengeluaran terkait popok bisa dihemat jika Hafshah sudah lulus toilet training sejak lama. Jujur, Hafshah sudah tidak berclodi karena dia yang risih dengan clodi. Semakin besar dan banyak tingkah, clodi kancing yang dia miliki rata-rata membuat dia tidak bebas bergerak sehingga dia tidak nyaman berclodi lagi.

Aku mencoba menghibur diri bahwa yasudah lah, itulah hal terbaik yang bisa aku lakukan di tengah kelelahan mentalku saat itu. Terlebih, walau kami belum bisa menghemat pengeluaran untuk popok, setidaknya aku tidak lagi menggunakan pembalut sekali pakai sejak bisa haid lagi di bulan Februari 2026 yang lalu. Alhamdulillah walau anakku tidak berhasil clodi 100%, setidaknya aku berhasil konsisten menggunakan pembalut kain walau ribet nyucinya.

Outfit Hafshah ketika ikut ibu menjalankan usaha

Makasih udah berusaha buat aku dan Hasfhah. Berangkat jam 3 pagi.


Aku pun kemudian mencari banyak referensi. Belajar dari proses penyapihan, Hafshah biidznillah bisa mengerti konteks yang sedang dijalani ketika dibacakan buku terkait hal tersebut. Sebelum proses menyapih, Hafshah sering membolak-balik halaman buku "Serunya Disapih" . Jadi aku berpikir, mungkin Hafshah akan lebih paham konteks toilet training jika kami belikan buku tentang hal tersebut.

Namun, sampai tulisan ini aku tulis, ternyata aku belum menemukan buku yang cocok karena buku yang direkomendasikan teman-temanku, yaitu "Tuntas Beristinja" karakternya adalah anak laki-laki. Biasanya ceritanya jadi tidak relate dengan Hafshah dan dia jadi kurang excited

Ceritanya ibu lagi marah sama bapak. Hafshah tiba-tiba minta digandeng kanan kiri. How sweet she is. Berusaha mendamaikan bapak ibunya.


Baiklah daripada aku tersesat di jalan, aku memutuskan membeli rekaman kelas tentang toilet training. Aku belum selesai mendengarkan seluruhnya, tetapi dari 1/2 rekaman yang aku dengarkan, ternyata aku ga salah-salah amat kok ketika menunda toilet training saat Hafshah bisa mengatakan "Hafshah mau pipis" kala itu.

Mengapa? Karena untuk bisa toilet training, anak dan ibunya harus siap dulu. Ibu harus punya kapasistas berempati lebih kepada anak dalam transisi yang besar ini. Bayangkan ya, anak kan terbiasa pipis/pup dimana saja saat mereka beraktivitas, eh ini kemudian tiba-tiba harus buang air di satu tempat saja. Itu pun lubangnya bagi anak cukup besar dan bisa jadi mereka takut jatuh ke lubang tersebut.

Anak di bawah 4 tahun juga susah menahan/menunda keinginan. Jika mereka diminta "Tolong ditahan dulu ya kalau mau pipis/pup sampai kita ke kamar mandi" dan mereka tidak bisa melakukannya, orang tua yang tidak siap berempati akan rawan stres dan marah pada anak.

Belum lagi soal kamar mandi yang menurut anak adalah ruangan besar dan mungkin tidak nyaman karena licin. Anak yang belum paham soal istinja' tiba-tiba diminta pipis/pup di sana padahal mereka belum nyaman dengan kondisi tempatnya. Ibu yang sulit berempati bisa marah besar dan menimbulkan trauma pada anak berakitan dengan ekresi dan pencernaan.

A night to remember

Alhamdulillah si anak broken home ini jadi punya keluarga besar yang hangat lewat jalur pernikahan



Baiklah, spill isi kelasnya cukup di situ dulu. Di postingan pertama terkait toilet training ini I just want to tell you bahwa kemarin saat aku di kamar mandi, Hafshah ketok-ketok mengatakan "Hafshah mau pup"

Kupikir dia hanya main-main karena mungkin hanya ingin ikut aku di kamar mandi, ternyata ketika aku buka popoknya, pupnya sedang keluar. Jadi separuh sudah keluar di popok saat aku membuka popoknya. 

Wah, Alhamdulillah, aku sangat senang dan menunjukkan rasa bahagia itu di hadapan Hafshah agar dia merasa diapresiasi.

Lalu separuh yang lain dia keluarkan saat popoknya sudah dilepas walau dia belum berani jongkok dan mengeluarkannya dalam kondisi berdiri. Tidak apa-apa, it is a good start Alhamdulillah. 18 Juni 2024 adalah hari pertama dia MPASI dan ternyata 20 Juni 2026 adalah hari pertama dia berhasil pup di kamar mandi.

Mendengarkan kajian ini di saat hati sangat membutuhkannya

Tolong doakan si guru ini agar istiqomah

Demikian cerita kali ini. Semoga ada progress yang bisa aku ceritakan di postingan-postingan berikutnya.

Selesai ditulis ba'da Subuh
5 Muharram 1448H




Comments

Popular posts from this blog

Resign untuk Kedua Kalinya

Sistem Sekolah: Dulu Tidak Ada Yang Memberitahu Aku Tentang Ini

Belajar dari Senior Homeschooling

Supporting My Other Half

Ups and Downs at My Twenties