Resign untuk Ketiga Kalinya
Bismillahirrahmanirrahim
Aku bukan menyerah, tetapi aku tahu kapan waktu yang tepat untuk berhenti.
---
Hello everyone! This is my very first post in 2026. Pasti kalian nyariin aku kan? Kemana aja aku selama ini kok ga nulis blog lagi. Dan ya, jawabannya adalah...
Karena aku sedang berproses mengambil hikmah dari kejadian yang terjadi.
Hah? Maksudnya?
Baik, baca pelan-pelan biar paham maksudku ya!
Sudah sejak lama aku dan suami ingin punya usaha. Kami berpikir bahwa uang yang ada baiknya diputar untuk usaha agak peredarannya juga kembali ke masyarakat. Pernah terpikir untuk usaha telur karena kami menemukan penjual telur yang murah, tetapi hal tersebut belum terealisasi karena khawatir dengan risikonya.
Kami masih mencari dan mencari usaha apa yang cocok untuk kami. Sampai pada akhirnya ada sebuah momen ketika Allah membukakan kesempatan untuk menjual emas batangan. Berawal dari satu pembeli, lanjut aku iklankan di WA dan Instagram dan ternyata banyak peminatnya, hingga akhirnya aku buatkan grup khusus untuk update stock dan harga.
Bisnis ini bermula bulan November 2025. Kalau kalian ingat postinganku yang ini, itu adalah awal mula ketika kami merintis usaha ini. Awalnya kami ikut menjualkan barang orang lain yang kebetulan adalah tetangga kami. Namun akhirnya lama-lama aku merasa tidak enak dengan beliau karena aku tidak bisa langsung membayar ketika barangnya aku ambil untuk dijualkan.
Akhirnya pada akhir bulan Desember 2025, aku dan suami sepakat untuk mandiri. Kami menjual barang kami sendiri yang artinya kami memang menyetok barang dagangan.
Long story short, Alhamdulillah lama-lama grup WA ini ramai juga anggotanya. Grup yang aku beri nama "Look for Gold" ini kemudian menjadi sangat ramai setelah aku mengadakan webinar gratis tentang menabung emas batangan. Semakin semangatlah aku untuk jualan. Apalagi aku merasa ini jualan yang paling cocok denganku yang memang sudah lama berkecimpung di dunia emas batangan. Aku banget gitu lho! Setelah sekian lama mencari jualan apa yang cocok, ternyata emas batanganlah jawabannya.
Aku kemudian mencoba lebih serius dengan membuat akun IG untuk usaha ini. Mendesain logonya, mencari kotak untuk packing, dan mencetak stiker. Semua aku lakukan agar usaha ini terlihat profesional dan aku memang ingin serius menekuninya. Sambil juga menikmati hasil usaha, aku memikirkan bagaimana cara agar usaha ini terus berkembang.
Jujur, ada banyak sekali relasi dan kesempatan yang aku dapat selama usaha ini. Mengenal banyak seller, mengetahui seluk beluk usaha jual beli emas, mengetahui 'usaha mendapatkan barang' yang dilakukan oleh bandar, bertemu dengan banyak customer baru, bahkan aku sampai ketemu dengan sesama alumni STAN yang dulunya juga penempatan Bali.
Namun, sampailah aku pada pekan kedua bulan Januari. Pekan ketika rasanya ngos-ngosan sekali. Pekan ketika baru ambil barang sekian, eh udah naik jauh lebih tinggi. Rasanya keuntungan yang aku dapat dari hasil jualan emas tidak sebanding dengan naiknya harga yang menggila ini.
Terlebih, emas yang affordable harus diambil di tempat yang jauh. Mengantar emas pun juga lokasinya jauh-jauh. Jujur, ketika aku posting barang di grup, aku sungguh berharap yang membeli adalah orang dari luar kota agar aku tidak perlu jauh-jauh mengantar. Tenang, aku tetap yadan bi yadin kok, yaitu dengan Akad Wakalah dengan seseorang yang menyediakan jasa sebagai wakil di Surabaya.
Baru saja kemarin aku pagi-pagi buru-buru ke Bratang mengambil 5 gram, lalu aku ke Delta Sidoarjo untuk menjual 2 gram, dan kemudian aku ke Dinoyo untuk membeli enam gram. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu tidak, baru saja pulang sudah ga tega sama customer yang nanyain update stock. Selesai update stock di grup, niat hati mau istirahat dulu karena habis motoran jauh sekali dalam kondisi cuaca yang panas, eh ternyata WA jadi ramai sekali. Gongnya adalah ketika ada customer di Keputih minta diantar ke sana. Padahal aku sudah memberi kode bahwa aku tidak ingin dia membeli agar aku tidak perlu keluar rumah lagi, tapi ternyata dia tidak menankap kode itu dan aku malah jadi kasihan dengannya sehingga akhirnya kuantar pula emas batangan itu ke sana.
| Ketika rasa lelah menjadi teman baikmu sehari-hari |
Ada banyak hal yang aku korbankan untuk usaha ini. Waktu, tenaga, pikiran, dan juga urusan-urusan tentang Hafshah. Aku kehilangan waktu untuk belajar Bahasa Arab karena mayoritas waktuku adalah untuk menjual, mencari barang lagi, mengantar, dan pusing sendiri karena harganya terus naik. Aku juga kehilangan quality time bersama Hafshah karena aku yang sering ngecek HP untuk melayani customer dan mencari barang baru. Benar Hafshah bersamaku secara fisik, tetapi aku tidak hadir secara jiwa untuknya. Dia yang harusnya terpenuhi kebutuhan geraknya jadi kurang bergerak karena ikut aku kemana-mana sehingga lama duduk di gendongan hip seat.
Pikiranku juga terbagi antara rumah, ngajar, dan jualan. Yang mana akhirnya aku merasa tidak bisa maksimal menjadi guru dan tentu hal tersebut bisa jadi membuat murid-muridku kecewa.
Harga gorengan ini sungguh tidak masuk akal sehingga aku memutuskan cukup, aku akan berhenti terlebih dahulu.
Sebelum memutuskan berhenti jualan dulu, pekan lalu aku sempat bimbang apakah usaha ini layak diperjuangkan atau tidak. Apakah harus aku teruskan atau aku sudahi saja. Aku pernah mengantar emas ke Sidoarjo dalam kondisi kehujanan. Di jalan aku berdoa, "Ya Allah, jika aku salah jalan, tolong hentikan aku."
Iya, aku minta dihentikan jika usaha ini bukan yang terbaik bagiku dan malah membuat urusan kami acak adut. Walau pada awalnya terlihat lancar dan menjanjikan, lambat laun aku mulai merasa bahwa usaha ini mungkin baiknya bukan untuk saat ini. Mengapa? Karena Hafshah masih kecil. Masih sangat butuh kehadiranku. Dan Hafshah sudah semakin mengerti kondisi sekitar. Dia sering cemburu jika aku pegang HP dan kemudian berulah untuk menarik perhatianku.
Terlebih, kami seharusnya siap-siap untuk Ramadhan. Bukan malah semakin disibukkan dengan dunia dunia dan dunia.
Mungkin jika harus jualan lagi, minimal ketika harga gorengan ini telah berakhir. Minimal ketika kondisinya lebih stabil dan aku lebih siap untuk tidak kejar-kejaran dengan harga yang semakin lama semakin tinggi tak terkendali.
Resign untuk ketiga kalinya. Sebagaiman pernah aku tulis pada postingan resign untuk kedua kalinya bahwasanya setiap ibu itu berproses, aku tidak akan men-judge diriku sendiri karena aku memang masih berproses. Suamiku juga tahu bahwa istrinya sedang berproses dengan proses yang tidak mudah. Proses penyesuaian dari seorang juara kelas dengan seabrek prestasi duniawi ke seorang ibu yang bisa hadir utuh dalam pengasuhan tanpa tropi dan tepuk tangan. Tidak mudah lho menjalani ini. Ketika kamu terbiasa mendapat hal yang prestis secara duniawi dan kemudian kamu ingin menjadi seroang ibu saja, akan ada godaan dan bekas-bekas pola hidup masa lalu yang terbawa dalam proses penyesuaian ini.
Oleh karena itu, aku tidak lagi heran melihat ibu lain sibuk mengurus komunitas, aktif di grup, berkarya di sana, bekerja di sini, ya yang intinya sibuk gitu lah, karena memang setiap ibu itu berproses. Banyak ibu yang stres ketika hidupnya hanya mengurus rumah dan keluarga saja karena dia memang butuh rasa berharga yang selama ini ia dapat dari pencapaian-pencapaian yang terlihat wujudnya. Sangat tidak mudah ketika bentuk apresiasi itu biasanya berwujud dan kini apreasiasi itu sunyi tanpa rupa.
Tolong maklumi kami ya. Doakan kami, para ibu-ibu yang sedang berproses ini.
---
Ditulis menjelang tidur
24 Rajab 1447H
Comments
Post a Comment