Tema Doa di Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim

Sama seperti tahun lalu, sebelum Ramadhan pergi, aku ingin menuliskan kisah di sini untuk aku simpan memorinya dan aku baca lagi suatu hari nanti.

Ramadhan selalu punya arti tersendiri di hati. Tahun ini, setelah dua tahun absen puasa Ramadhan, Alhamdulillah aku kembali ikut puasa karena sudah tidak menyusui. Alhamdulillah mayoritas kondisi aku tidak lapar, tidak haus, dan bisa beraktivitas normal, salah satunya mungkin karena sebelum Ramadhan datang aku sudah latihan puasa 31 hari dengan membayar hutang puasaku. Mengingat hutang puasaku ada 60 hari dan mumpung aku saat itu belum haid, aku mencoba memaksimalkan diri untuk membayar hutang puasa agar tidak semakin menumpuk di belakang.

---

Kali ini aku ingin menulis tentang tema doa di Ramadhan.

Jujur, aku adalah orang yang menulis list doa Ramadhan sejak jaman kuliah, entah sejak 2016 atau 2017. Namun, setelah aku perhatikan, ternyata tiap tahun aku punya tema doa yang aku ulang-ulang selalu dan mayoritas Allah kabulkan, Alhamdulillah. Berikut tema yang aku ingat sejak 2018 karena untuk tahun 2016 dan 2017 aku sudah lupa temanya apa (tapi kemungkinan besar sih temanya minta jodoh).

2018 - Minta jodoh & Minta kemudahan resign
2019 - Minta jodoh & Minta kemudahan resign
2020 - Minta kemudahan resign & Minta keturunan
2021 - Minta kemudahan resign & Minta keturunan
2022 - Minta keturunan
2023 - Minta kemudahan kuliah LN (sudah di fase lupa ingin punya anak eh tapi Alhamdulillah pasca Ramadhan malah hamil)
2024 - Minta kemudahan pindah ke kontrakan
2025 - Minta kemudahan kuliah LN jika itu yang terbaik
2026 - Minta xxx (hehe diblur biar ga pada tahu)

Alhamdulillah mayoritas doa-doa ini Allah kabulkan walau ada yang cepat dan ada yang lambat. Allah memberi aku jodoh, memudahkan aku resign dari Kemenkeu, memberi kami keturunan, dan memudahkan kami menemukan kontrakan terbaik yang membuka peluang baru untuk kami. 

Namun memang Allah tidak (atau mungkin belum) mengabulkan keinginan untuk kuliah di LN. Hanya saja fun fact nya adalah kini aku tidak kecewa seperti yang pernah aku ceritakan di sini. Mungkin pengabulan doa terkait hal itu adalah dengan adanya hati yang tidak kecewa ketika keinginan itu tidak terwujud.

---

Tujuan aku menulis ini adalah agar aku ingat bahwa Allah mendengar doa hamba-Nya. Allah tidak menyia-nyiakan hamba-Nya yang berdoa bahkan jika doa itu belum Dia wujudkan. Sebagaimana aku ceritakan di atas, mungkin pengabulan doa tentang keinginan kuliah di LN itu terwujud dengan Allah yang menjadikan hatiku tidak mudah kecewa dengan ketetapan-Nya yang tidak sesuai doaku.

---

Dulu waktu kecil aku sering memperhatikan orang dewasa setelah shalat. Dalam hati aku bertanya, mengapa ya orang dewasa itu berdoanya cepat? Malah ada yang tidak berdoa. 

Tapi ternyata ketika dewasa aku paham alasannya. Aku paham rasanya menjadi orang dewasa dengan segala keinginan dan telah berdoa tetapi pengabulan doa itu belum terlihat wujudnya. Tentu bukan Allah yang salah dan juga bukan Allah yang tidak mendengar doa hamba-Nya, tetapi memang manusia diliputi rasa ingi segera dan tergesa-gesa dalam melihat pengabulan doa itu. 

Yang mana pada akhirnya ketika doa itu belum Allah kabulkan, mereka jadi malas berdoa. Mereka jadi malas meminta karena merasa doanya tidak didengar oleh Allah Ta'ala.

Semoga Allah senantiasa memberi kita hidayah untuk berdoa karena ternyata tidak semua orang mau melakukannya.

---

Intimate adalah hal yang bisa melukiskan perasaanku ketika berdoa kepada Allah di Ramadhan kali ini. Mayorutas waktu berbuka aku habiskan bersama Hafshah di Masjid Al-Ikhlas Palm Spring. Dan menjelang adzan Maghrib, Hafshah aku titipkan dulu agar aku punya waktu berdoa di waktu prime time. Di saat rasa lapar itu memuncak, di saat rasanya tidak punya daya dan upaya, di saat itulah rasa meminta kepada Allah menjadi luar biasa.

Tidak seperti orang lain yang bisa itikaf di masjid kapapun ia suka, sebagai ibu dengan toddler tentu aku perlu mempertimbangkan banyak hal untuk itikaf. Aku perlu memikirkan apakah anakku akan lari-lari dan berisik atau tidak, apakah orang lain akan terganggu, apakah ini apakah itu. Jujur, shalat Tarawih pun aku lakukan di rumah agar tidak ada orang yang terganggu dengan anakku. Pernah suatu kali, yaitu di malam ke-23, aku mencoba itikaf tetapi pada akhirnya gagal karena aku salah strategi. Aku datang setengah 9 malam karena ingin tidur di masjid tetapi pada akhirnya Hafshah tidak mau tidur.

Namun, kala itu, menjelang malam ke-27, aku terdorong untuk itikaf. Aku hanya berpikir bahwa setidak-tidaknya di Ramadhan kali ini, ingin merasakan itikaf walau hanya sekali. 

Kali ini kami menggunakan strategi yang berbeda. Kami tidur di rumah dulu. Sebelum tidur aku sampaikan ke Hafshah bahwa dini hari nanti kami akan berangkat ke masjid dengan harapan Hafshah bisa memahami sehingga ia bisa tenang. Tak lupa sebelum tidur malam aku berdoa dulu agar Allah membuat Hafshah kondusif sehingga kami bisa itikaf dengan nyaman.

Ekspektasiku adalah karena dini hari Hafshah masih ngantuk, dia akan tidur ketika dibawa ke masjid. Namun, ternyata aku salah, dia bangun sebangun-bangunnya dan tidak mau tidur lagi.

Tetapi Alhamdulillah dia sama sekali tidak rewel dan tidak berisik sehingga kehadirannya di masjid bukan menganggu orang tapi malah menuai pujian banyak orang karena dia yang bisa diajak bekerjasama untuk itikaf ke masjid.

---

Walau tidak bisa setiap malam itikaf, intimate juga adalah hal yang aku rasakan ketika di rumah saja. Karena tidak banyak bertemu manusia, aku jadi bisa fokus dengan kebutuhan diri sendiri dan merasa bahagia ketika bisa curhat dalam kesunyian kepada Allah Ta'ala.

Ternyata kebahagiaan di Ramadhan itu tidak terbatas hanya untuk mereka yang bisa itikaf. Ibu-ibu yang stand by di rumah pun juga Allah beri rasa bahagia seperti orang lain.

---

Tidak template adalah kata yang suamiku sematkan kepadaku di Ramadhan kali ini. Mengapa demikian? Karena tahun ini aku membuat hampers sendiri dengan kreasi sendiri. Sebenarnya alasannya bukan karena aku kreatif, tetapi karena budget terbatas, agar yang dikirimi hampers bisa banyak, akhirnya mau tidak mau harus membuat hampers sendiri.

Hampers is a love language. Semoga orang yang menerimanya bisa merasakah kehangatan dari pesan yang aku tulis secara personal.

---

Ramadhan tahun ini akan segera pergi dan aku selalu berharap semoga Allah izinkan kami berjumpa kembali nanti. Semoga Allah menerima segala amal baik, mengabulkan segala doa, dan mengampuni segala kesalahan.

Taqabbalallahu Minna wa Minkum
29 Ramadhan 1447H


Comments

Popular posts from this blog

Resign untuk Kedua Kalinya

Supporting My Other Half

Persiapan Penyapihan: Perjalanan Mencari Perosotan

Why Do You Hate School System?

Cerita Penyapihan Hari Pertama dan Kedua: Hafshah yang Kecewa