Inti dari Bisnis adalah Tauhid

Bismillahirrahmanirrahim

Hello everyone!
Ingin rasanya cerita tentang perjalanan membangun bisnis ini. Utamanya tentang pelajaran apa saja yang aku dapat sejauh ini. Karena jika tidak pernah ditulis, pengalaman ini mungkin akan hilang begitu saja dan tidak bisa dipelajari oleh anak cucuku nanti.

So here we go!

Sebuah pelajaran berharga di hari itu: tulis di WA customer dulu sebelum COD


Aku tu orangnya gampang insecure. Gampang ovt. Dan hal ini tentu terbawa dalam urusan membangun usaha ini.

Contoh, ketika aku merasa ada yang kurang dari pelayanan kami, aku auto mikir, "Kayaknya customernya kapok deh beli di aku huhu."

Atau ketika gara-gara satu dan lain hal customer jadi tahu pedagang lain dari aku, aku langsung mikir, "Kayaknya customernya nanti bakalan beli di pedagang itu dan ga beli di aku hiks."

Atau ketika aku mendapat customer-customer dari luar kota/pulau, tentu aku berpikir, "Paling aku ini hanya jembatan pertama mereka dalam membeli emas, kali kedua dan seterusnya, mungkin mereka akan beli di tempat-tempat yang dekat dengan mereka."

Dan tentu saja ke-ovt-an ku ini kadang aku ceritakan ke bapaknya Hafshah yang orangnya tidak gampang ovt seperti aku. Dan seperti biasa, dia tidak menggurui aku harus begini dan harus begitu. Dia membiarkan aku melewati proses ini karena memang aku sedang berproses.

Dating with my high school friend

I prefer rose, but this one is also beautiful <3


Lucunya adalah ketika aku ovt akan satu hal, ternyata Allah jawab ke-ovt-an itu dengan fakta sebaliknya.

Misal, ketika aku berpikir customer kapok beli di kami, tak lama kemudian dia repeat order. Contoh lain ketika ada customer yang tahu pedagang lain, ternyata dia malah merekomendasikan saudaranya untuk beli di aku. Atau misal ketika aku takut tidak ada pembeli padahal aku butuh uang untuk buyback, tiba-tiba Allah datangkan pembeli yang sama sekali tidak mengenalku di dunia nyata.

Ternyata inti dari bisnis adalah tauhid.

Yaitu ketika kita bisa sepenuhnya percaya bahwa Allah akan mengatur segalanya. Ketika kita bisa yakin bahwa kita cukup berusaha dan biarkan Allah yang menentukan hasilnya. Ketika kita bisa paham bahwa usaha boleh sama atau ditiru, tetapi rezeki tidak akan dijiplak, semua hamba sudah Allah tetapkan kadar rezekinya masing-masing.

Me supporting him as a book seller


Aku pernah bertemu pedagang ikan di pasar yang menurutku selalu ramai. Dia belum buka saja yang menunggu dia sudah banyak. Dari hasil jualan ikan dia bisa beli rumah, mobil, dan bahkan berangkat haji. Dan hal menarik yang sering aku dengar darinya adalah

"Sepi bingung, ramai juga bingung."

Tenyata kini aku merasakan apa yang dia katakan. Sepi bingung karena belum ada pemasukan, ramai pun juga bingung karena banyak yang harus dihandle dan diselesaikan.

Pada akhirnya kini aku mencoba mengatur hati bahwasanya sepi dan ramai akan Allah pergilirkan dan itu pasti akan terjadi. Tidak mungkin sepi terus dan tidak mungkin ramai terus. Kedua kondisi ini akan silih berganti dan tidak ada kondisi yang lebih baik dari kondisi yang lain.

Mengapa?

Karena ketika sepi aku bisa fokus pada hal lain seperti membersihkan rumah lebih baik, memasak lebih mindful, main di taman lebih lama, atau belajar dua modul kuliah dalam sehari. 

Namun ketika ramai, itulah saatku untuk mensyukuri nikmat rezeki yang Allah berikan di hari tersebut walau konsekuensinya ada banyak hal lain yang belum bisa aku kerjakan di hari itu.

Lagi-lagi, inti dari bisnis adalah tauhid.

Ketika kita bisa memandang sepi dan ramai adalah hal yang positif. Bahwasanya sepi bukan berarti buruk karena ternyata kita perlu melatih hati untuk memahami makna rasa cukup.

Dan terus bertambah Alhamdulillah. Terakhir ketambahan Bontang, Rejang Lebong, Karawang dan Ponorogo.

Rajin bgt kan w bikin hampers sendiri buat customer?


Jujur, bisnisku ini sistemnya belum sempurna. Ada banyak sisi yang harus aku perbaiki. Ada banyak hal yang aku sebut dalam doa agar Allah memudahkan di sisi ini dan sisi itu yang belum aku temukan jawabannya hingga hari ini. Dan jujur, aku pernah takut tidak laku karena beberapa sisi yang belum baik dan belum bisa aku perbaiki ini.

Namun, aku sekarang sudah di tahap percaya bahwa setiap penjual akan bertemu dengan pembelinya -biidznillah-

Walau mungkin sistemku belum sempurna, walau mungkin di beberapa sisi perlu aku perjuangkan lagi, tetapi apabila seseorang itu telah ditakdirkan menjadi customerku, maka ia akan menjadi customerku.

Dan keyakinan ini membuat aku tenang dan biasa saja ketika ada orang yang tanya-tanya tetapi tidak jadi beli. Bagiku kini, apabila ada orang yang demikian, maka dia bukan marketku. Selesai.

Tidak ada lagi kata baper. Tidak ada lagi rasa kecewa ketika ditolak karena memang dunia bisnis adalah dunia penolakan. Dunia yang harus tahan banting ketika tidak diterima karena preferensi customer yang berbeda-beda.

Mental pejuang sejak kecil. Kemana-mana ikut bapak ibunya dagang


Aku tidak pernah menyangka bahwa pindahnyakami ke kontrakan ini adalah jalan yang membuka peluang baru bagi kami hari ini. Padahal dulu ada momen ketika suamiku sedih karena keduluan orang di kontrakan lain yang menyebabkan kami harus pusing tujuh keliling lagi untuk mencari tempat tinggal yang sesuai untuk kami.

Tenyata, tiap kali kita tertolak dari hal yang kita inginkan, sejatinya kita tengah diarahkan menuju takdir terbaik yang telah disiapkan untuk kita.

Dan hari ini aku hanya ingin mengatur ekspektasi bahwa segala kemungkinan bisa saja terjadi. Dan kemungkinan apapun yang akan Allah takdirkan nanti, tentu itulah jalan hidup terbaik bagi keluarga kami.

---

Ditulis di penghujung hari
19 Syawal 1447H


Gara-gara story bu DK jadi pingin nulis ini di IG buat nyemangatin dedek-dedek. Eh gataunya booming.

Takdir Allah selalu yang terbaik



Comments

Popular posts from this blog

Resign untuk Kedua Kalinya

Sistem Sekolah: Dulu Tidak Ada Yang Memberitahu Aku Tentang Ini

Bukan Sekedar Pindah ke Kontrakan

Belajar dari Senior Homeschooling

Ups and Downs at My Twenties