Unpopular Opinion: Tidak Semua Ibu Bekerja karena Tuntutan Finansial

Bismillahirrahmanirrahim

Hai blog, hari-hari ini lelah sekali rasanya membuka platform bernama Instagram. Indonesia sedang dibanjiri berita tentang anak-anak yang disiksa di daycare dan disusul oleh berita kecelakaan kereta yang menewaskan banyak penumpang di gerbong khusus perempuan.

Jujur, yang membuat aku lelah bukan beritanya, tetapi tentang narasi yang dibangun oleh orang-orang di sana. Yang mana narasi ini jika aku counter di platform yang sama tentu aku akan dihabisi massa karena mayoritas manusia tidak akan setuju dengan apa yang akan aku tulis ini.

Pengasuhanku masih banyak kurangnya


Tapi aku merasa hal ini pun perlu dibahas


"Jangan salahkan ibunya. Ga semua ibu beruntung. Ada yang harus bekerja karena tuntutan finansial."

Iya. Inilah narasi yang dibangun dimana-mana ketika berita daycare itu mencuat ke permukaan. Narasi ini mungkin benar untuk sebagian orang, tetapi hanya menjadi alat pembelaan bagi sebagian orang yang lain. Mengapa yang di-highlight selalu ibu yang bekerja karena tuntutan finansial? 

Mengapa ibu yang bekerja karena ambisi pribadi/gengsi/aktualisasi diri/mengejar kenyamanan dunia tidak dibahas? Bukankah ini saat yang tepat untuk menyadarkan mereka betapa pentingnya anak ketimbang karir yang mereka kejar itu? Jika bukan sekarang, lalu harus menunggu momen apa lagi untuk mengingatkan mereka?

Pernah menjadi pejuang garis dua. Tahu betul betapa susahnya punya anak


Dan sebelumnya, sudahkan orang yang membangun narasi di atas melakukan survei, berapa perbandingan ibu bekerja karena tuntutan finansial dan ibu bekerja karena ambisi pribadi? 

Mengapa seolah-olah kejadian ini hanya boleh menyudutkan kondisi ekonomi sebagai biang kerok yang menyebabkan ibu harus bekerja? Banyak lho yang bekerja karena sayang ijazahnya. Banyak juga yang bekerja karena tidak mau melepas gajinya. Banyak juga yang bekerja karena enggan dianggap tidak berdaya jika di rumah saja.

BANYAAAK. 

Padahal suaminya sudah mencukupi kebutuhannya.

"Iya aku kerja bukan karena tuntutan ekonomi, suamiku udah cukup, tapi aku sudah terlanjur nyicil rumah/mobil/dll dsb."

Pertama, urusan tempat tinggal itu bukan kewajiban istri, itu kewajiban suami.
Kedua, bahkan tempat tinggal pun tidak harus punya, kalau suami belum mampu, sangat sah dan boleh untuk ngontrak.
Ketiga, bukankah punya mobil/dll/dsb itu tidak wajib? Yang wajib bagi perempuan itu mendidik anak. 

Kalau tetap denial, ini apa namanya kalau bukan mengejar kenyamanan dunia dan mengesampingkan kebutuhan anak?

Tilik bayi teman kami. Semoga Allah mudahlan urusan mereka


Maksudku begini, jika narasi yang boleh dibangun hanya tentang tuntutan finansial yang membuat ibu terpaksa bekerja, di mana ruang bagi anak untuk membela diri?

Anak juga berhak bersuara. Namun, mereka tidak mampu. Kejadian inilah yang menyuarakan isi hati mereka. Mereka tidak ingin dititipkan. Jika bisa memilih, mereka ingin bersama orang tuanya, lebih khusus bersama ibunya. Kapan ibunya yang tidak terpaksa bekerja ini mau sadar jika tidak dengan kejadian ini? 

Buka galley kaget, kok ada foto ini. Ternyata yang nge-foto adalah Hafshah. Dia foto ketika aku shalat. Semakin kaget karena kok bisa hasil fotonya bagus?


Sebutlah aku nirempati, pick me atau semisalnya, you named it!
Tapi, sebagai manusia, aku juga tahu gelagat manusia. Mayoritas manusia adalah pihak yang akan terus membela diri ketika salah atau disalahkan. Iya, itu adalah mekanisme pembelaan diri.

Apakah benar semua ibu yang tidak terpaksa bekerja itu karena tidak cukup? Atau hanya karena takut tidak bisa hidup nyaman? Lalu membuat narasi seolah ia terpaksa bekerja karena kebutuhan hidup mahal dan semisalnya. Padahal sering jalan-jalan dan makan di mall dengan berbagai gaya sosialita. 

Come on! wake up!!

Sampai kapan anak yang akan terus menjadi korban? Hanya karena mereka tidak punya suara lalu mereka bisa dititipkan kesana kemari. Bukankah manusia tidak tertimpa musibah melainkan akibat perbuatannya sendiri? Dan bukankah ini adalah sinyal untuk berbenah diri?

Anakku yang ambis belajar


Jika standar kita adalah dalil, mau bagaimana pun kejadiannya, kita tidak akan pusing dengan banyaknya narasi yang dibangun manusia. Namun, jika standari kita adalah perkataan manusia, kita akan terus mencari pembenaran dan di sana lah akan muncul rasa tidak ingin disalahkan.

Ketika kita salah dan kita mengakui. Itu adalah satu langkah yang bagus. Karena setidaknya kita sadar akan kesalahan itu dan semoga juga tergerak untuk memperbaikinya.

Namun, ketika kita salah tetapi denial, denial, dan denial. Apa harus menunggu musibah lebih besar dulu baru akan sadar dan kembali ke jalan yang benar?

Pulanglah Bu!
Anakmu menunggu.

---

Ditulis di Surabaya menjelang Shalat Ashar
Jika kamu mengira kondisi finansialku aman-aman saja sehingga bisa menulis seperti ini, kamu salah besar. Namun, sebagai manusia yang hidupnya hanya sekali, aku hanya ingin memilih jalan yang Allah pilihkan walau begitu berat dan bagai memegang bara api. Semoga Allah izinkan kita semua istiqomah di atas jalan-Nya hingga akhir hayat.


Hari itu aku sangat lapar. Belum sempat masak dan menunda beli makan karena ada keperluan. Tiba-tiba ada makan gratis yang diselenggarakan di jalan. Terharu sekali ternyata Allah memberi sesuatu tepat ketika aku butuhkan.



Comments

Popular posts from this blog

Resign untuk Kedua Kalinya

Sistem Sekolah: Dulu Tidak Ada Yang Memberitahu Aku Tentang Ini

Bukan Sekedar Pindah ke Kontrakan

Belajar dari Senior Homeschooling

Ups and Downs at My Twenties