Hal Baik Apa yang Akan Menimpaku Setelah Ini?
Bismillahirrahmanirrahim
Hai blog!
Menurutmu mengapa pernikahan itu tidak mudah? I'll go first, menurutku pernikahan itu tidak mudah karena menyatukan dua ide, dua sudut pandang, dua mimpi, dua keinginan, menjadi satu agar selaras, sejalan, dan terkompromikan tanpa mengorbankan satu sama lain itu bukan perkara sederhana.
Dan mungkin banyak orang memilih end up karena tidak menemukan solusi untuk hal ini. Setelah melewati hari-hari bersama pasangan, ternyata baru tahu bahwa sudut pandangnya berbeda, baru tahu bahwa mimpinya tak sama, baru tahu bahwa keinginannya tak seragam, dan mengkompromikan hal itu bukan perkara gampang.
Pagi hari sebelum shalat ied aku menangis, kesal, marah, kecewa. Semua tertumpuk jadi satu padahal pagi itu juga harusnya aku siap-siap untuk berangkat shalat ied. Momen yang hanya setahun sekali ini jadi kurang nyaman karena hal-hal yang mentriggerku untuk teringat lagi dan teringat lagi pada sesuatu yang membuatku sedih.
Selepas shalat ied, aku pun berusaha deep talk dengan suamiku. Menceritakan apa yang aku rasakan dan berharap bahwa semoga dia mengerti jika suatu hari aku akan tertrigger hal yang sama lagi.
Iya, tidak mudah menjadi suamiku yang istrinya punya banyak luka. Seolah ia tak salah apa-apa tapi ikut menanggung beban yang sama karena luka istrinya yang belum sembuh. Sebaliknya, dari sudut pandangku, aku sangat beruntung punya suami yang emotionally stabil. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, memang yang aku butuhkan adalah punya suami yang bisa tenang di saat berbagai macam gejolak jiwa muncul karena minta disembuhkan.
Aku sudah mencoba dan ternyata tak mudah menjalani ini semua. Mungkin memang ada hal yang aku relakan saat ini agar tidak ada yang aku korbankan lebih dalam lagi. Setelah satu periode ini berlangsung, mungkin aku akan mengambil jeda sambil mengatur ulang prioritas. Bahwasanya hidupku tidak sama dengan yang lain dan aku tidak perlu menjadi orang lain.
Hidupku berat, menjadi idealis itu tidak mudah, tetapi aku harus tetap yakin bahwa di balik semua kesulitan ini, ada hal baik apa yang akan menimpaku setelah ini?
Karena setiap takdir Allah itu baik dan aku harus meyakini bahwa Allah akan mengabulkan doa di saat yang terbaik.
Baik, itu hanya pembuka dari apa yang ingin aku ceritakan di postingan kali ini. Inti postingan ini adalah aku ingin bercerita tentang momen Idul Adha tahun ini yang begitu seru.
Jadi tahun ini, warga sekitar rumah orang tua kami menyelenggarakan event penyembelihan Qur'ban. Gang ini hanya berisi sekitar 35 keluarga, acara ini dibuka dengan penyembelihan dan ditutup dengan makan bersama serta pembagian daging qurban. Dan tahun ini, suamiku kembali dihubungi untuk menjadi pihak yang menyembelih hewan qurban. Ini adalah kali kedua suamiku ditugasi hal tersebut karena dari sekian banyak bapak-bapak,(biidznillah) hanya suamiku yang punya pengalaman menyembelih hewan qurban.
Acara ini sebenarnya bukan yang pertama kali. Tahun lalu pun juga terselenggara acara yang sama. Berkaca dari tahun lalu, sebenarnya acaranya lancar dan baik-baik saja. Hanya saja, ada hal yang mengganjal di hati, yaitu suara musik selama acara berlangsung.
Dan sebenarnya sempat disetel suara takbiran koplo yang menurut kami tidak patut. Namun, kala itu kami menyadari bahwa kami berdua adalah keluarga muda yang jika menyampaikan nasihat mungkin akan sulit diterima.
Oleh karena itu, tahun ini, ketika suamiku dihubungi untuk menjadi penyembelih, kami menggunakan bargaining position kami untuk mencegah hal yang sama terjadi. Lewat orang tua kami, kami menyampaikan ke koordinator yang intinya suami bersedia menjadi penyembelih tetapi mohon tidak ada musik selama acara berlangsung.
Koordinator pun menyetujui dan Alhamdulillah ketika acara berlangsung yang disetel adalah suara takbir yang sesungguhnya (bukan takbiran koplo lagi). Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah kami berhasil menggunakan bargaining position kami agar acara ini lebih khikmat.
| Ibu beli sepeda buat Hafshah untuk melatih koordinasi bilateral Latihan integrasi reflek dan sensory system setiap hari |
Aku jadi ingat dulu ketika kuliah aku pernah menggunakan bargaining position juga untuk mengkondisikan teman-teman. Jadi dulu saat kuliah, menjelang ujian, banyak teman yang minta ditentiri mata kuliah yang dirasa sulit. Aku yang (biidznillah) diberi kemudahan memahami materi, sering ditunjuk untuk mententiri teman-teman sekelas.
Saat itu aku mau menentiri tetapi aku mengajukan syarat bahwa aku tidak ingin mendengar kata "Anj*ng" atau kata kotor lainnya. Sebenarnya yang bertindak demikian tidak semua temanku, hanya beberapa orang saja, tetapi aku ingin teman-teman tahu bahwa itu tidak baik dan tidak layak untuk diucapkan. Selain itu, aku juga mensyaratkan bahwa teman-teman laki-laki harus memakai celana di bawah lutut karena di atas lutut termasuk aurat. Alhamdulillah tentir berjalan lancar dan mereka mau mau saja menerima syarat tersebut karena butuh ditentiri.
Menarik bukan jika kita punya bargaining position?
---
Selesai ditulis di Surabaya, 15 Dzulhijjah 1447H
Taqabballallahu Minna wa Minkum
Comments
Post a Comment