Keberkahan itu Bersama Para Senior

Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini aku workout. Workout di hari Jum'at memang lebih sepi peminat. Datanglah seorang ibu-ibu yang belum aku kenal menggunakan mobil. Terlihat seperti ibu-ibu berada pada umumnya. Ibunya cantik walau usianya sudah lebih dari 50 tahun. Dalam hati aku berkata, "Mungkin beliau sedang menikmati masa tuanya."

Ketika workout berlangsung, ibunya telihat masih kaku. Oh mungkin beliau belum terbiasa, pikirku. Beliau juga beberapa kali tidak mengikuti arahan gerakan dari coach karena mungkin capek. Dalam hati aku berkata, "Beliau datang saja sudah bagus, gapapa mungkin karena baru pertemuan pertama."

Setelah workout selesai dan kami beranjak pulang, beliau cerita sedikit tentang kehidupan beliau. Anak beliau ada lima. Salah satunya lulusan ITB dan baru saja dari Jepang. Beliau carikan jodoh di grup alumni ITB karena beliau sendiri dulu adalah mahasiswa ITB. Jujur ketika mendengar cerita ini aku bergumam dalam hati, "Ibu ini memiliki mimpi yang aku inginkan dulu, yaitu ITB. Seneng banget ya kalau jadi alumni ITB, bisa cari mantu di grup alumni."

Lalu beliau juga cerita bahwa mantu beliau adalah lulusan IT yang saat ini bekerja remote dengan gaji USD. Tipikal keluarga modern yang berhasil secara duniawi karena selain kaya, anak-anaknya pintar dan berhasil Masyaa Allah. Beliau cerita bahwa banyak anak banyak rezeki itu benar karena anak-anak beliau sering men-support keuangan beliau tanpa diminta. Anaknya yang memberangkatkan umrah, yang mengajak ke Jepang, dll.

Sampai di sini, sudah cukup iri kah kamu? Jika iya, kamu harus tahu bahwa ternyata...

Ibu ini adalah seorang janda.

Diposting lalu dihapus karena nanti grup workout lain ada yang tersinggung hehe


Iya, beliau adalah janda cerai hidup. Sudah menikah selama 26 tahun dengan suaminya lalu berpisah karena suaminya bertingkah.

Dulu beliau kuliah di ITB tidak selesai karena menikah muda. Kala itu anak kedua beliau wafat ketika masih kecil dan aku bisa membayangkan betapa chaos nya kehidupan beliau di masa itu jika harus punya anak-anak kecil dan kuliah di ITB dalam waktu yang bersamaan.

Satu mimpi beliau untuk menjadi sarjana ITB telah lepas karena beliau punya peran yang lebih krusial yaitu menjadi istri dan ibu.

Tahun demi tahun berlalu, anak beliau pada akhirnya ada lima. Suami beliau yang merupakan pejabat di salah satu BUMN bisa menafkahi lebih dari cukup bahkan beliau cerita diberi nafkah puluhan juta kala itu.

Namun, sang suami berulah. Suami beliau kala itu menikah lagi. Bukan menikah laginya yang beliau permasalahkan, tetapi orang yang dinikahi adalah wanita diskotik yang setelah menikah dengan suami beliau, dia ketahuan tidur dengan laki-laki lain. Naudzubillahimindzalik.

Makan-makan bersama peserta workout. Agenda sesekali.


Wanita itu kemudian diceraikan. Tak lama kemudian suami beliau menikah lagi dengan wanita lain yang sebelumnya sudah tiga kali menikah. Menurut penuturan beliau, beliau tidak melihat bahawa wanita ini adalah wanita baik-baik. Beliau berusaha menyelamatkan suami dari pergaulan yang buruk (karena takut terkena infeksi kelamin), tetapi suami beliau menolak dan akhirnya perceraian itu tidak terelakkan lagi.

Aset berharga yang kami miliki: kebersamaan.


Sedih kan?

Coba kamu bayangkan. Ibu itu merelakan gelar sarjana lulusan ITB untuk mengabdikan diri kepada keluarga. Namun, apa yang beliau dapat? Beliau diuji oleh laki-laki hidung belang dan akhirnya pernikahannya pun kandas.

Ga bisa bayangin betapa sakitnya. Tapi memang ujian hamba itu beda-beda. Dan ujian beliau ada di sana. Beliau dengan segala ujiannya tetap Allah beri kasih sayang dengan anak-anaknya yang berhasil dan membanggakan. 

Sebelum iri dengan nikmat orang lain, mungkin kita butuh tahu terlebih dahulu tentang kisah hidupnya agar kita tahu ujian apa yang dia hadapi.

Hehe. Nulis di blog aja deh biar adem ayem hidupnya


Kalau kamu, ujian apa yang kamu hadapi? Kalau ujianku saat ini adalah...gapunya teman hahahaha. Ditolak sana sini, ga dikasih udzur, bahkan diinjak-injak kehormatanku untuk hal yang bahkan bukan kesalahanku.

Mau nulis panjang lebar udah males, coba kalian nilai sendiri aja gimana.

Selesai ditulis menjelang pergantian hari
19 Dzulhijjah 1447H

Salah lagi di mata nitizen gaes. Perasaan orang-orang di medsos emang beda-beda. Aneh ya, aku kalau ga suka sama postingan orang atau bahasa yg dia pakaim yaudah aku skip aja. Ini malah cara penyampaianku (yg aku jg ga tahu postingan yg mana) dipermasalahkan.

Manusia zaman now ga tahu konsep kerjasama dagang mungkin ya? Hehe. Dikira jualan awal itu semua modalku. Yg ngingetin hidup hemat bukan cuma aku, tapi ustadz-ustadz juga lho. Masa aku pernah negur temen yg bikin story makan enak di mall? Kok ini mau bikin story aja jadi sungkan sama aku?
 



Comments

Popular posts from this blog

Resign untuk Kedua Kalinya

Sistem Sekolah: Dulu Tidak Ada Yang Memberitahu Aku Tentang Ini

Belajar dari Senior Homeschooling

Supporting My Other Half

Ups and Downs at My Twenties