Adik Kecil Kehilangan Ayahnya

Bismillahirrahmanirrahim

Ada seorang anak kecil yang kehilangan bapaknya baru-baru ini. Bapaknya mencuri ayam lalu dihakimi warga hingga meninggal dan dia histeris melihat jenazah sang bapak.

Rasa ibaku muncul. Hai adik kecil, kamu mengingatkan aku pada diriku sendiri ketika kecil. Aku yang tumbuh tanpa sosok bapak. Bedanya, bapakku masih ada di dunia tetapi tidak hadir membersamaiku hingga detik ini.

Anak kecil berhak bahagia di masa kecilnya


Tiba-tiba ada air mata yang aku rasakan. Ternyata luka itu sangat dalam. Luka tidak tumbuh bersama sosok yang melindungi. Yang kemudian memaksa aku untuk harus tegak sendiri karena tidak ada laki-laki dewasa yang membelaku ketika aku disakiti.

Bahkan, ada orang yang memanfaatkan ketidakhadiran laki-laki dewasa itu dengan sengaja melukaiku. Mungkin dia merasa aman karena tidak akan ada yang membelaku. Bagian ini akan sangat sulit aku ceritakan. Aku tidak bisa membalasnya di dunia. Namun, aku yakin Allah akan memberi dia hukuman yang setimpal di akhirat.

Berusaha membuat core memory untuk Hafshah


Baik, di sisi lain, tiba-tiba adik ini mengingatkan aku pada luka yang lain. Luka memiliki orang tua yang tidak baik tabiatnya. Tiba-tiba aku teringat bagaimana bapakku (sebelum berpisah dengan ibuku) dibenci orang-orang karena tabiat buruknya hingga orang-orang memandangku sebelah mata. 

Dan kemudian ketika perpisahan itu terjadi, aku tetap dipandang sebelah mata, dianggap anak buangan yang tidak akan sukses karena orang tuanya tidak jelas sehingga aku layak diperlakukan tidak adil oleh mereka. 

Tahukah kamu betapa perihnya? Aku tidak bisa memilih lahir dari keluarga yang seperti apa, tetapi tiba-tiba aku ikut menanggung ini semua. Aku ikut menanggung malu ketika orang melihat sinis ke bapakku karena ulah beliau. Aku merekam kejadian-kejadian buruk ketika ibuku melontarkan kebencian kepada bapakku karena tabiat beliau. Not for blaming my mother karena beliau juga terluka dengan jalan cerita hidup beliau, tetapi mendengarkan ujaran kebencian terus-menerus itu perih rasanya.

Dear Hafshah, doakan ibu sembuah dari luka-luka ini ya

Anak sekecil itu, anak sepolos itu, Rahma di masa itu, mau tidak mau dicekoki ujaran kebencian dari orang-orang sekitarnya kepada bapaknya sendiri. Orang yang seharusnya melindunginya dan menjadi cinta pertamanya ternyata tidak pantas dia cintai karena orang-orang mengatakan demikian.

Dan kini, ketika luka itu berubah menjadi tabiat buruk seperti susah memaafkan, yang orang-orang lihat hanya aku sebagai individu yang tidak punya hati yang lapang. Padahal, aku bertahan hidup dengan pola itu bertahun-tahun, sikap sulit memaafkan untuk melindungi diriku agar tidak semakin disakiti oleh brutalnya orang-orang dewasa di sekitarku saat itu. 

Bayangkan jika aku tidak punya mekanisme bertahan hidup seperti itu. Aku akan semakin diinjak. Semakin tidak dianggap. Dan semakin dibuang hanya karena kesalahan yang tidak aku perbuat tetapi ikut aku tanggung. 

Iya, aku tahu, kini ujian hidup itu sudah selesai. Dan aku tahu, aku harus berubah, aku tidak bisa lagi menggunakan senjata susah memaafkan untuk bertahan hidup karena kondisinya sudah tidak sama. Aku pun sedang memperjuangkan agar mudah memaafkan seperti yang diminta di agama kita. Namun, yang membuat aku terluka adalah penghakiman dari orang-orang yang menganggap aku egois tanpa mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam hidupku.

Berusaha hadir utuh jiwa raga walau banyak kurangnya


Jangan jahat-jahat sama anak broken home please. Kalian yang menghakimi belum tentu bisa melewati apa yang kami lewati. Kalian yang mengatakan aku tidak punya hati yang lapang, tidak tahu rasanya melewati masa kecil dengan segala drama orang dewasa di sekitar kalian. Kalian yang mengatakan aku egois mungkin tidak pernah melewati masa kecil yang harus berjuang sendiri ketika dijahati oleh sekitar.

Memang mudah menghakimi orang lain. Dan aku jelaskan pun kalian tidak akan mengerti karena kalian tidak mengalami. 

Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa. Hanya Allah yang bisa menjelaskan kepada kalian dengan cara-Nya.

Selesai ditulis di waktu Dhuha
12 Safar 1446H

Comments

Popular posts from this blog

Resign untuk Kedua Kalinya

Supporting My Other Half

Belajar dari Senior Homeschooling

Persiapan Penyapihan: Perjalanan Mencari Perosotan

Ups and Downs at My Twenties