Ruang Aman bagi Emosi Hafshah

Bismillahirrahmanirrahim

Hai blog! Sudah menjelang pukul 12 malam di sini dan aku tidak bisa tidur. Akhir-akhir ini aku sedang mengalami fase yang begitu rumit di pikiranku sehingga aku ingin menumpahkan sebagiannya ke sini.

Kalau kamu ingat, aku pernah cerita bahwa aku pernah menangis di hadapan suamiku karena merasa tidak menjadi apa-apa yang pernah aku ceritakan di sini, di satu sisi aku memang sedih karena jalan cerita hidupku belum seperti yang aku inginkan, tetapi di sisi lain aku bangga karena aku bisa mengenali emosiku, membahas traumaku, dan tidak menghakimi perasaan yang muncul dari kejadian yang aku alami.

Ibu dan Hafshah


Pagi ini pun aku sedang mengalami duka yang sama. Kembali teringat bahwa aku belum bisa S2 LN seperti yang aku inginkan padahal aku punya potenisnya. Kembali menangis ketika menyadari bahwa aku saatini bukan siapa-siapa dibanding teman-temanku yang lain.

Namun, aku harus bersyukur punya suami yang mau mendengar ap ayang aku rasakan dan memberi ruang bagiku untuk berduka. Aku harus sangat bersyukur punya suami yang walau dia sendiri juga punya duka, tetapi dia memberi aku kesempatan untuk punya ruang yang aman dalam hal menceritakan kesedihan yang aku rasakan.

Dan itulah yang mungkin tidak aku dapat di kehidupanku sebelum menikah selama ini.

Berusaha melakukan yang terbaik untuk tumbuh kembang Hafshah


Aku tentu harus berterima kasih kepada ibuku yang sudah mem-provide aku sedemikian rupa hingga aku bisa menjadi juara di sekolah dan sampai menjadi PNS di Kemenkeu. Ibuku sangat tangguh dan bertanggung jawab dalam hal pendidikan anak sehingga mendorong kami untuk berhasil secara duniawi. Hampir setiap hari beliau bertanya "Gimana sekolahnya/kuliahnya?" yang menunjukkan betapa pedulinya beliau pada kehidupan akademisku.

Namun, mungkin luka yang ibuku rasakan sebagai orang tua tunggal sudah terlalu berat hingga tak sanggup lagi memberiku ruang untuk menceritakan kesedihan yang aku rasakan. 

Yang aku ingat, sepertinya aku jarang bisa menceritakan isi hatiku kepada ibuku. Di tahun-tahun ketika aku berusia 20-an awal, apabila kami berbeda pandangan dan ibuku ingin aku mengatakan mengapa aku cemberut, aku sudah sulit menjelaskan karena pola yang terjadi selama bertahun-tahun adalah setiap kali berdebat, ibuku selalu benar dan aku tidak punya kesempatan mengungkapkan sudut pandangku. 

Entah sejak kapan, ibuku juga jarang meminta maaf setelah membentakku atau setelah berbeda pandangan dengaku, padahal yang aku ingat, duluu sekali ketika aku masih kecil ibuku pernah minta maaf setelah memarahiku. Aku ingat kejadian itu karena aku masih punya fotonya.

Not for blaming my mom karena aku sadar luka ibuku sangat besar. Aku upload agar aku berusaha untuk tidak membentak Hafshah 


Lagi-lagi, ternyata memang jodoh kita itu tidak mungkin salah orang. Lopi mungkin bukan dari keluarga yang terbiasa mengungkapkan perasaan, sama seperti keluargaku, tetapi setidaknya Lopi tidak berasal dari keluarga dengan banyak konflik seperti keluargaku. Masa kecilnya tidak banyak luka sehingga emosinya jauh lebih stabil.

Sebelum kehadiran Hafshah, kami memang membangun budaya mengungkapkan rasa sayang secara lisan satu sama lain. Agar apa? Agar tidak canggung ketika usia semakin bertambah. Karena yang kami lihat di masyarakat, seiring bertambahnya usia, biasanya pasangan suami istri akan saling canggung satu sama lain jika mengungkapkan rasa kasih sayang.

Dan hal itu juga terjadi antara orang tua dan anak. Banyak orang tua dan anak yang canggung mengungkapkan rasa sayang karena memang tidak dibiasakan. 

Hafshah 2.5 tahun jago baca buku biidznillah. For those who haven't know, membaca gambar adalah salah satu tahapan anak bisa membaca tulisan

Oleh karena itu, kami membiasakan mengungkapkan rasa sayang secara lisan kepada Hafshah seperti "Ibu sayang Hafshah." Aku pun juga mengatakan rasa sayang kepada suami di depan Hafshah agar dia tahu bahwa mengungkapkan rasa sayang kepada anggota keluarga itu tidak perlu canggung. Misalnya "Ibu sayang bapak."

Dan kini, ada terobosan baru yang aku terapkan sebelum tidur. Memasuki usianya yang kini 2.5 tahun, Hafshah sangat excited dengan buku dan ingin baca buku sebelum tidur. Jadi rutinitas kami sebelum tidur adalah baca buku, berdoa, dan mencoba repair kembali hal yang tidak nyaman yang kami lalui bersama.

Aku sering memeluk Hafshah dan mengatakan "Hafshah tadi marah/sedih/kecewa?Mengapa?" Biasanya dia akan mengangguk lalu diam sebentar karena mungkin belum punya kosakata yang mumpuni. Lalu biasanya aku bantu dengan aku coba ingat-ingat kejadian apa di hari itu yang kira-kira membuat dia sedih, misal "Hafshah tadi marah sama ibu karena ibu pegang HP ya?" biasanya dia akan mengangguk. Di momen itulah aku kemudian berusaha repair, berusaha meminta maaf dan menjelaskan kejadian yang tadi membuat dia tidak nyaman.

Semoga Allah selalu menjaga Hafshah. Segala puji hanya milik Allah yang ketika diri ini merasa gagal sebagai seorang individu, ternyata ada anak yang tumbuh kembangnya membuat diri ini bangga menjadi seorang ibu

Pernah suatu hari aku menanyakan hal yang sama dan aku sangat terkejut ketika Hafshah mengatakan "Karena ibu tadi kajian." Iya, Hafshah sedih karena aku kajian (dan tidak membawa dia). Jadi, aku dan suami sudah sepakat untuk tidak membawa Hafshah ke kajian karena cukup mengganggu jama'ah lain sehingga konsekuensinya adalah kami kajian bergantian. Pernah suatu malam, aku pamit ke kajian karena memang saat itu adalah giliranku. Hafshah tidak aku bawa karena memang demikianlah kesepakatan yang selama ini kami jalani. 

Namun, aku tidak menyangka ternyata hal itu membuat dia kecewa. Tapi, jujur aku merasa sangat bangga karena kami biidznillah bisa memberikan ruang aman bagi Hafshah untuk mengungkapkan emosinya.

Hafshah yang masih sekecil itu bisa mengenali emosinya dan penyebabnya. Pernah juga dia mengatakan dia sedih karena aku ke Royal (dan tidak membawa dia). Padahal maksudku adalah agar bisa lebih cepat sehingga dia biar bersama bapaknya menunggu di luar Royal. 

Masyaa Allah, keren kan? Alhamdulillah Hafshah bisa mengungkapkan perasaannya dan ini adalah salah satu pencapaian yang layak aku rekam jejaknya agar Hafshah punya kecerdasan emosional yang bagus.

Hai Hafshah, jika nanti ketika Hafshah besar Hafshah membaca ini, Hafshah akan tahu bahwa ibu sedang berusaha menjadi cycle breaker


Tulisan ini selesai tepat pukul 01.00 WIB. Tidak sesuai jam biologis, tetapi aku senang karena bisa mengurai perasaanku di sini.

Mungkin mengurai perasaan tidak terlalu penting bagi orang lain, tetapi bagiku yang tidak dikaruniai kecerdasan emosional sebaik suamiku, aku perlu terus melatih diri dan mengupgrade jiwa agar semakin mudah mengendalikan emosi.

Doakan aku ya warga, semoga aku berhasil menjadi cycle breaker itu.

Selesai ditulis di rumah kecil kami yang nyaman
1 Safar 1448H

Mungkin aku tidak berhasil secara duniawi, tetapi pelan-pelan aku berhasil menjadi versi diriku yang mampu memiliki kestabilan emosi




Comments

Popular posts from this blog

Resign untuk Kedua Kalinya

Supporting My Other Half

Belajar dari Senior Homeschooling

Persiapan Penyapihan: Perjalanan Mencari Perosotan

Why Do You Hate School System?