Tujuh Tahun yang Lalu

Bismillahirrahmanirrahim

Memasuki tahun ke-7 bersama Lopi, aku jadi semakin paham kenapa jodohku dia. Dulu, di bulan Agustus 2019, ada seorang teman kuliah yang datang menemui ibuku karena hendak melamarku. Dia datang jauh-jauh seorang diri untuk memperkenalkan diri dan mengajukan niat baiknya. Namun, ibuku masih berat menerima dia karena lokasinya yang jauh. Masih pulau Jawa memang, tetapi saat itu kondisinya kakakku masih di Poso dan ibuku tidak ingin aku jauh dari rumah karena tinggal aku yang bisa diharapkan untuk mendekat ke Surabaya.

Kondisiku saat itu sudah ditahap: mana yang dipilih oleh ibuku maka itulah yang akan aku pilih. Aku sudah tidak peduli apakah aku suka dengan orangnya atau tidak. Apakah orangnya sesuai kriteriaku atau tidak. Yang penting ibuku setuju, ya itulah yang akan aku pilih.

She is so brave Masyaa Allah

Mengapa bisa aku sampai seperti itu? Kalau kalian baca blogku di jaman-jaman itu, kalian akan paham bahwa aku sudah di titik lelah mencari jodoh. Lelah patah hati dan capek sakit hati. Suka dan sesuai kriteria itu sudah tidak ada artinya lagi bagiku kala itu. Dan yang aku tahu, kalau kita mengikuti apa kata orang tua, maka akan ada keberkahan hidup di sana. Itulah yang menyebabkan aku sudah tidak mau memilih siapa-siapa. Aku serahkan pilihan ke ibuku.

Singkat cerita, ibuku memilih Lopi yang kala itu juga mengajukan niat baik ke rumah karena pertimbangan yang tadi aku sebutkan. Apakah teman kuliahku tadi sedih? Tentu saja. Dan sejak saat itu dia sudah memasang boundary dari semua media sosialku. 

Kini, 7 tahun berlalu, aku jadi paham mengapa jalan cerita hidupku dulu seperti itu. Mengapa kakakku harus di Poso yang mana hal itu menyebabkan ibuku insecure jika aku menikah dengan orang non-Jawa karena takut aku ikut jauh. Mengapa aku harus patah hati hingga begitu sakit sampai aku menyerahkan pilihan ke ibuku. Dan mengapa pada akhirnya menikah dengan teman sekolahku, bukan teman kuliahku.

Rahma 7 tahun yang lalu tidak pernah menyangka akan ada di titik ini

Ternyata kita sudah sejauh ini ya -biidznillah-



Hal itu karena ternyata Lopi adalah orang yang bisa dan sanggup ikut menahan beban mental yang aku hadapi. Lopi yang jauh lebih stabil emosinya, bisa menemani aku untuk berusaha sembuh dari luka masa lalu yang begitu berat untuk aku hadapi. Lopi yang anak terakhir tidak punya tanggungan sebagai sandwich gen yang mana itu sangat membantu kondisi keuangan kami. Lopi yang punya bapak ibu dan kakak-kakak yang hangat, membuat aku merasakan punya keluarga yang utuh dan minim konflik.

Dan sepertinya, jika aku menikah dengan teman kuliahku itu, kondisiku mungkin belum seperti saat ini. Bukan karena dia bukan orang baik, tetapi karena kondisi dia dan Lopi yang berbeda. 

Dia anak pertama yang punya tanggungan adik-adik. Dia juga orang pertama di keluarganya yang cukup sukses dan ikut membantu perekonomian saudaranya. Namun, dia mungkin tidak se-stabil Lopi emosinya karena luka batin yang belum sembuh. Terlihat dari dia yang terkadang insecure atau tidak percaya diri.

7 tahun yang lalu, rumah ini sepi tanpa anak kecil

Dan 7 tahun yang lalu, Rahma tidak pernah tahu bahwa dia akan punya anak perempuan versi mini dirinya


Aku jadi paham bahwa memang benar tidak semua orang baik itu cocok jika disatukan. Yang menjadi jodoh kita adalah orang yang memang kita butuhkan. Dan yang menjadi jodoh kita adalah orang yang membutuhkan kita bukan?

Tulisan ini adalah sebuhan renungan betapa baiknya Allah yang telah mengatur kehidupan ini. Apabila kita melihat dari kacamata seperti ini, maka kita tidak akan sedih atau menyesali masa lalu yang telah lewat. Justru kita semakin yakin bahwa ketika kita tertolak dari hal yang kita inginkan, sejatinya kita sedang diarahkan menuju hal lain yang memang terbaik untuk kita.

---

Ditulis ketika Hafshah tidur,
28 Muharram 1448H

Hafshah suka naik Wira-Wiri

Beautiful scenery with beautiful soul



Comments

Popular posts from this blog

Resign untuk Kedua Kalinya

Supporting My Other Half

Belajar dari Senior Homeschooling

Persiapan Penyapihan: Perjalanan Mencari Perosotan

Why Do You Hate School System?