Mensyukuri Hidup di Tengah Badai Ujian

Bismillahirrahmanirrahim

Hi, this is me! Di malam 17-an, habis nonton CoC, aku memutuskan untuk merekam apa yang ada di pikiranku saat ini di sini.

Kalau kalian baca tulisan-tulisanku recently, mungkin kalian akan berpikir bahwa aku menyesali beberapa pilihan hidup seperti resign dari Kemenkeu yang membuat aku insecure karena kehilangan hal yang bisa dibanggakan.

Namun, sejujurnya, aku merasa itu hanya gejolak emosi yang kadang muncul dan kadang tidak. Dan aku rasa semua orang pernah merasakan hal yang sama. Di usia dewasa, tentu semua pilihan hidup punya konsekuensi. Dan kita semua seringkali berusaha berdamai dengan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan hidup yang kita ambil. Bukan berarti kita menyesal dengan pilihan hidup itu, kita hanya sedang berjuang berdamai dengan konsekuensinya. Hanya itu.

Aku senang bisa resign. Aku senang bisa menaati Allah untuk tidak kerja ikhtilat. Aku senang bisa membersamai tumbuh kembang Hafshah. Namun, aku juga berjuang untuk berdamai bahwa aku tidak lagi punya status sosial atau pekerjaan mentereng untuk dibanggakan.

My favorite people with my favorite flowers


Dan hari ini, aku sedang dalam kondisi sangat mood untuk menceritakan betapa bersyukurnya aku pada hidupku. Aku menulis ini agar ketika gejolak emosi itu datang lagi, aku bisa kembali membaca tulisan ini dan mensyukuri hidupku lagi.

So, here we go!

A day to remember, Pasuruan


Di balik semua ujian hidupku, baik ujian masa kecilku atau ujian menghadapi trauma-traumaku hari ini, kalau dipikir-pikir sebenarnya hidupku itu enak sekali.
  1. Aku terlahir muslim. Punya keluarga muslim. Tinggal berusaha istiqomah hingga akhir hayat maka Insyaa Allah akan selamat. Di saat banyak orang bertengkar dengan keluarganya karena dia menjadi mualaf, Alhamdulillah aku tidak mengalami itu. Dan bahkan Alhamdulillah orang-orang terdekatku punya preferensi yang sama denganku sehingga tidak menyulitkan kami dalam visi misi dan ibadah.
  2. Aku diberi kelebihan di bidang akademik. Selain menjadi hal yang mengobati rasa lelah ibuku dalam membesarkan aku, kelebihan ini biidznillah sangat berguna dalam mendidik Hafshah karena aku berusaha mengkurasi informasi yang layak aku konsumi dan tidak dalam tumbuh kembang anak. 
  3. Aku sudah menikah dan punya anak. Di saat banyak sekali temanku sedang mencari jodoh dan menanti buah hati, Alhamdulillah aku sudah punya keduanya. Yang mana kehadiran suami dan anak adalah hal yang begitu berarti yang tidak mau aku tukar dengan kuliah ke luar negeri sekalipun.
  4. Kami diberi kemudahan tinggal sendiri. Ketika banyak teman yang sudah berkeluarga harus tinggal bersama orang tua/mertuanya, ternyata Allah begitu baik telah membantu kami menemukan tempat tinggal yang nyaman dan dekat dengan orang tuaku. Kami diberi ruang untuk bertumbuh sebagai sebuah keluarga dan menghindari konflik dengan punya teritori sendiri.
  5. Aku kini menjadi pengajar seperti yang aku impikan. Sebuah panggilan jiwa yang menjadi kenyataan karena Allah telah memberi aku keberanian untuk memilih jalan hidupku sendiri dan tidak hidup untuk mewujudkan mimpi orang lain.
  6. Aku punya suami dan anak yang green flag. Jujur, terkadang aku berpikir, akulah masalahnya. Akulah yang red flag di keluarga ini karena kedua anggota lainnya green flag. Punya suami yang jarang menuntut, punya anak yang sangat pengertian. Dua bekal yang semoga perlanan membantu aku sembuh dari luka-luka yang belum selesai.
  7. Keluarga suami green flag. Walau kami tidak dekat, walau kami tidak selalu sama pandangan, tetapi keluarga suami sangat minim konflik dan membuat aku merasakan keluarga yang utuh dan hangat. 
  8. Aku tinggal di kota besar dan tidak nomaden. Melihat banyaknya temanku yang bingung mau beli rumah dimana padahal mereka punya uangnya, Alhamdulillah aku tidak pusing memikirkan pindah-pindah walau kami tidak punya dana membeli rumah. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur karena Allah mencabut rasa ingin punya rumah karena memang kami belum mampu dan punya prioritas lain untuk diwujudkan. 
  9. Aku punya ibu yang lapang dada. Walau ibuku di masa lalu banyak menorehkan luka secara tidak sengaja, beliaulah yang paling berjasa dalam hidupku dengan sikap lapang dadanya hingga hari ini. Kalau beliau tidak lapang dada, pasti aku akan banyak dilarang, dikekang, dan tidak diizinkan memilih pilihan hidup sendiri.
  10. Banyak orang mungkin membenciku, tetapi masih ada orang-orang yang sayang padaku. Suamiku, anakku, ibuku, kakakku, teman-temanku, merekalah yang membuat aku merasa berharga. Sesimpel storyku dilike atau direpost, aku merasa berguna dan bermanfaat bagi orang lain.
Dan sebenarnya ada banyak nikmat lain yang tidak akan bisa aku tuliskan satu per satu. Aku menuliskan garis besarnya saja agar jika ada lintasan pikiran "Seandainya dulu aku..." maka aku bisa menghentikan pikiran itu dan mengingat betapa nikmatnya menjadi diriku saat ini.

Ga heran dulu dia olim Fisika


Ya Allah, tolong berilah aku petunjuk dalam setiap detik kehidupanku hingga aku berjumpa dengan-Mu. Ada banyak kekecewaan dalam hidup yang tidak akan bisa dimengerti orang lain, tetapi aku yakin Engkau memahaminya. Dan ada banyak sekali kesempatan bagi setan untuk membuat aku menangisi jalan cerita hidupku, tetapi aku mohon bantulah aku untuk mengingat nikmat-Mu tiap kali rasa sesal itu mulai muncul.

30 tahun hidup di dunia. Bukan angka yang sebentar. Dan belum tentu akan berjalan lebih lama.

Bantulah aku untuk menutup sisa usia dengan hal yang bermanfaat. Hal yang mengalirkan pahala jariyah. Dan hal yang meringankan hisabku di akhirat nanti.

Izinkan amal terbaikku ada di ujungnya. Dan hari terbaikku adalah hari ketika aku berjumpa dengan-Mu.

---

Selesai ditulis pukul 00.15 WIB
17 Agustus 2026
30 Safar 1448H

Alhamdulillah, terima kasih telah menjadi penyejuk hati kami Nak

Semoga Allah menjaga Hafshah dimanapun dan kapanpun







Comments

Popular posts from this blog

Resign untuk Kedua Kalinya

Supporting My Other Half

Persiapan Penyapihan: Perjalanan Mencari Perosotan

Why Do You Hate The School System?

Cerita Penyapihan Hari Pertama dan Kedua: Hafshah yang Kecewa