Things I Learned from My Twenties

Bismillahirrahmanirrahim

Sebenarnya judul tulisan ini adalah "Hal yang aku pelajari dari usia 20-an dan baru aku sadari di usia 30-an". Namun, sepertinya terlalu panjang sehingga demikianlah judul yang aku pilih. 

Jadi, mengapa aku menulis ini? Karena aku ingin menjadi orang yang lebih baik. Agar ketika aku butuh diingatkan, aku bisa kembali lagi ke sini untuk memahami konteks kehidupan ini.

So, here we go!

We're now living at the time we'll miss someday


Satu
Idealis Boleh, Tapi Kamu Akan Diuji dengan Keidealisan Itu

Aku tidak tahu cara mengungkapkannya, tetapi kurang lebih begini maksudku. Di usia 20-an aku sangat idealis bukan? Aku resign dari PNS karena tidak ingin ikhtilat. Aku resign karena takut di-adzab Allah karena aku bekerja kantoran padahal ada yang menafkahi aku. Dan aku saat itu sangat yakin bahwa Allah pasti menolong aku karena aku sudah berusaha menjadi hamba yang taat.

Oke, di satu sisi idealis itu memang harus. Namun, mungkin aku tidak menyiapkan diri dengan ujian di balik ke-idealis-an itu. Ternyata melihat teman-teman tetap punya gaji tetap sedang diri sendiri tidak, itu tidak mudah. Melihat teman-teman punya karir mentereng sedang diri sendiri tidak punya status sosial, itu berat. Dan ternyata konsekuensi dari resign, yaitu ujian finansial, itu sungguh ada. 

Benar Allah pada akhirnya selalu menolongku dalam setiap kondisi, tetapi ketika ujian itu datang, mungkin itu di luar ekspektasiku yang tadinya mengira bahwa:

Taat pada Allah = Hidup bahagia selamanya

Hey, sadar Rahma! Kamu sendiri sudah sering mendengar bahwa berpegang pada syari'at itu bagai menggenggam bara api. Panas, berat, dan akan selalu ada godaan untuk menyesali pilihan menaati syari'at. Terlebih ketika melihat orang-orang yang tidak sesuai syari'at sepertinya baik-baik saja dan tidak di-adzab. Ada dorongan untuk kecewa pada takdir Allah ketika kondisi tidak sesuai harapan.

Aku jadi paham mengapa banyak sekali orang yang tadinya idealis kemudian jatuh mengikuti alur kehidupan manusia pada umumnya. Karena idealis itu berat. Dan jiwa kita memang tidak suka dengan sesuatu yang berat. Mayoritas orang tidak akan memilih idealis sehingga rasanya kamu akan berjalan sendiri menggenggam keidealisan itu.

This is heartwarming


This is also wonderful


Dua
Jangan Ambil Keputusan yang Terlalu Ekstrim

Mengapa? Karena akan lelah mempertahankannya. Contoh, masalah makan sehat. Tadinya aku mengikuti pola makan GAPS yang jujur hasilnya memang bagus sekali. Namun, tidak makan nasi, membatasi ini itu, ada pantangan ini anu, dan segala aturan lainnya ternyata (menurutku) cukup ekstrim dan membuat aku tidak bertahan. 

Apa bedanya dengan poin nomor satu?

Kalau nomor satu, idealis itu harus ketika ada syari'at yang mengaturnya. Contoh tentang batasan bekerja bagi perempuan tadi. Bekerja itu boleh bagi perempuan dengan segala aturannya. Ketika aturan itu terlanggar, maka jelas kita harus memilih yang idealis.

Namun, nomor dua adalah hal yang tidak diatur detail dalam syari'at. Misal masalah makan tadi. Syari'at mengatur harus makan yang halal dan thayyib bukan? Tetapi apakah harus GAPS? Tentu tidak. 

Begitu pula tentang banyak hal. Untuk saat ini aku akan mengatakan pada diriku sendiri bahwa tidak perlu mengambil keputusan yang terlalu ekstrim selama keputusan itu tidak diatur sangat ketat dalam syari'at.

Love this park already

A deadhang exercise. She does it everywhere



Tiga
Menulis Prinsip di Tempat yang Sepi Saja

Jujur aku bingung cara mengungkapkan poin ini. Aku sudah pernah cerita sebelumnya bahwa ada orang-orang yang tidak suka kepadaku karena aku menuliskan prinsip hidup dan pilihan hidup di story. Mereka merasa terserang oleh storyku padahal aku juga tidak bermaksud menyerang siapa-siapa.

Aku tidak mengerti. Bukankah manusia memang beda-beda? Ketika aku buka medsos dan melihat orang yang mengungkapkan prinsip yang tidak sejalan denganku, biasanya aku hide atau aku abaikan saja.

Namun, ternyata tidak semua orang berpikir yang sama denganku. Ada sebagian orang yang mengadukan tulisan-tulisanku seolah jika aku mempublikasikannya maka itu adalah hal yang salah. Seolah jika aku menyebarkan tulisanku maka aku menyerang mereka yang tidak satu prinsip denganku.

Di titik ini aku merasa menjadi public enemy. Jadi begini ya rasanya menjadi orang tuaku yang dulu tidak disukai banyak orang. Sedikit merembet ke hal lain, yaitu ke masa ketika orang tuaku masih muda. Perpisahan mereka menjadi bahan omongan warga dan tentu orang-orang yang kepo akan mencari tahu masalah dan keburukan masing-masing pihak. Baiklah, mungkin orang tuaku memang punya kesalahan dan kekurangan, tetapi ternyata tidak disukai oleh sekitar dan tidak diharapkan kehadirannya itu tidak enak.

Rasanya seperti, "Sebelum kalian membenci aku, aku sudah membenci diriku sendiri."
Lebai? Coba saja jadi public enemy. Nanti kalian akan tahu rasanya bahwa tidak diharapkan itu membuat kita akan menghakimi diri kita begitu dalam. Kita akan sering berpikir bahwa diri kita memang buruk dan tidak pantas dicintai. Kita akan sering menyalahkan diri sendiri dan mengatakan "Pantas saja kamu tidak diterima."

Dalam kesunyian ini, aku tidak bisa berbuat banyak. Aku jelaskan pun orang lain juga tidak akan paham bagaimana rasanya. Intinya adalah: semakin tulisanmu tidak tampak di media sosial, itu semakin baik. Kalau ingin menulis, ada blog yang bisa menjadi tempat mencurahkan ide dan kamu tidak perlu merasa bersalah karena kamu tidak mengundang orang lain untuk membaca blogmu.

She is so brave Masyaa Allah

Thanks for the Goverment of Surabaya who has provided many free kids-friendly parks 


Empat
Tidak Perlu Berteman Terlalu Dekat dengan Siapapun

Karena pertama, perempuan itu mudah iri. Ketika kamu berteman dekat dan menunjukkan itu ke khalayak, akan ada orang-orang yang iri dan itu sungguh bisa merusak pertemananmu lewat jalur 'ain.

Kedua, pada akhirnya manusia itu berubah. Tidak ada teman yang akan sama persis pola pemikirannya karena memang jalan hidupnya berbeda. Dan aku sudah belajar dari berbagai pengalaman orang lain bahwa pertemanan yang tadinya hype itu akan berhenti pada masanya. Satu-satunya yang memang akan menerima kita kembali hanyalah keluarga.

Ketiga, pertemanan perempuan itu rumit. Biasanya menguras energi, waktu, dan perasaan yang membuat fokus kita akan terbagi. Fokus yang tadinya untuk keluarga malah akan terbagi ke hal yang tidak wajib kita ketahui/lakukan.

Keempat, teman tidak bisa selalu memaklumi karena tidak tahu persis jalan cerita hidup kita, tetapi keluarga memang adalah tempat kembali karena mereka yang paham apa yang terjadi pada diri kita.


Alhamdulillah, thanks for having each other

It's time to comeback to your own bussiness


Selesai ditulis dalam kondisi recovery
20 Safar 1448H

Comments

Popular posts from this blog

Resign untuk Kedua Kalinya

Supporting My Other Half

Persiapan Penyapihan: Perjalanan Mencari Perosotan

Why Do You Hate School System?

Cerita Penyapihan Hari Pertama dan Kedua: Hafshah yang Kecewa