Dicintai dengan Terhormat

Bismillahirrahmanirrahim

Jujur aku bukan orang yang suka upload kehidupan rumah tangga karena aku merasa ya itu bukan hal yang harus diketahui orang lain. Di medsos bahkan aku tidak tag suami di bio Instagram agar orang-orang tidak tahu siapa suamiku dan tidak mengganggu kehidupan kami. Pun juga ketika upload kehidupan pengasuhan, aku jarang menceritakan peran suamiku di sana karena aku khawatir kena 'ain jika ada orang yang tidak suka dengan cerita tersebut.

Namun, kali ini, izinkanlah aku berbagi sedikit cerita tentang cerita kami.

Syawal lalu di Jakarta

Visiting my campus

Visiting other places at Bintaro

Aku pernah bertanya pada suamiku tentang sejak kapan dia suka kepadaku. Pertanyaan ini sungguh sangat menggelikan dan tidak penting sebenarnya tapi aku hanya iseng ingin tahu siapa tahu jawabannya mengejutkan.

Dan ternyata memang mengejutkan, dia suka kepadaku sejak jaman sekolah. Jaman ketika pacaran tidak terlintas di pikiranku karena aku sibuk belajar, ikut lomba, dan mengurus organisasi.

Lalu aku melanjutkan pertanyaan, mengapa dulu dia tidak bilang? Dan tentu saja aku sudah tahu dia tidak akan bilang karena dulu dia adalah ketua rohis sekolah. Masa iya ketua rohis tiba-tiba nembak perempuan yang dia sukai? Tercoreng dong muka rohisnya.

Dengan nada bercanda dia mengatakan, "Takut ditolak lah". Ini jawaban bercanda ya gaes, aslinya ya ga mungkin dia menyatakan perasaannya saat itu. 
Lalu aku lanjut bertanya, "Emang tahu dari mana kalau bakal ditolak?" 
Dia menjawab, "Dari buku-buku yang dipegang kemana-mana."

Ternyata saingan dia bukan laki-laki lain, tapi buku-buku yang jadi pacarku selama masa sekolah hahaha. Cerita ini tentu untuk lucu-lucuan saja karena setelah menikah tentu cerita seperti ini hanya sebagai selingan untuk hiburan.

Namun, setelah aku ceritakan ke sahabat onlineku, yaitu AI, aku baru sadar bahwa aku dicintai secara terhormat.

Karena aku jarang cerita kehidupan percintaan, tolong ga perlu hasad ya gaes, semua orang udah ada rezeki dan ujiannya masing-masing


Aku ingat masa-masa ketika di satu organisasi yang sama, aku adalah bawahan dia sebagaimana pernah aku ceritakan di sini. Mungkin kalau dia mau, dia bisa saja menjadikan itu sebagai alasan untuk berkomunikasi intens dengan aku lewat SMS (Ya Allah jaman kapan ini masih pakai SMS). Tapi, itu tidak dia lakukan. Bahkan yang aku ingat, dia terkesan dingin dan tidak peduli denganku. 

Atau misal ketika lulus SMA, di tahun pertama aku kuliah di Unair (kampus C) dan dia di ITS. Mungkin jika dia niat mendekati, dia bisa saja bikin alasan apa gitu kek biar ketemu toh kampusnya deketan. Tapi tentu saja itu tidak dia lakukan. Selain karena di tahun pertama ITS memang gila-gilaan ospeknya, dia sendiri tahu apa gunanya melakukan hal semacam itu.


Nemu di IG. Terima kasih sudah nekat menikahi aku Lopi

Kenapa nekat? Karena saat itu gaji dia hanya 500rb (sedangkan aku saat itu 9jt)
Kenapa nekat? Karena dia tidak insecure melihat aku punya status sosial sebagai PNS sedangkan dia tidak
Kenapa nekat? Karena kami baru ketemu lagi hanya beberapa bulan setelah 6 tahun lost contact
Kenapa nekat? Karena segudang alasan lain yang sebenarnya bisa jadi alasan untuk mengulur pernikahan tetapi dia tetap tidak menunda.

Aku pernah berpikir, mengapa suamiku ini tidak insecure ya punya istri kayak aku? Padahal banyak lho suami yang ga mau istrinya lebih hebat dari dia. Tapi suamiku terang-terangan membolehkan aku S2, membolehkan aku punya usaha sendiri, membolehkan aku berkembang menjadi begini dan begitu. Ternyata jawabanya adalah (lagi-lagi nanya AI):

Kalau ada yg hasad, lama-lama blognya aku privat aja deh, masa aku ga punya tempat buat cerita kebahagiaan diri sendiri hehe. Aku ga pernah lho cerita begini ke medsos lain.

Hadza min Fadhli Rabbi

Suamiku bukan orang kaya, tetapi dia berusaha memberi yang terbaik untuk keluarganya. Pasti lelah sekali jadi dia yang harus cari nafkah tetapi juga harus hadir untuk aku dan Hafshah. 

Suamiku statusnya tidak mentereng, tetapi jiwanya damai. Entah bagaimana caranya, tetapi di setiap ujian finansial, dia selalu yakin Allah akan memberi pertolongan. 

Pernah dulu ketika aku akan resign dari PNS (saat itu masih pandemi), kami ditanya "Memang suamimu kerja apa?", dan tentu pertanyaan ini wajar mengingat saat itu pandemi dan orang-orang berlomba menjaga kestabilan ekonominya masing-masing.

Kenyataannya, waktu itu pekerjaannya belum jelas. Belum jelas tetapi kami berani mengajukan surat resign. Jujur, aku sebenarnya takut, tetapi tiba-tiba di hari-hari itu ada saja jalan yang Allah buka. Mulai dari telepon misterius yang ternyata menawari suamiku bekerja (serius ini bikin nangis banget waktu itu karena kayak pas banget lagi butuh pertolongan Allah, tiba-tiba ada yang telepon), ada info lowongan dekat rumah di Surabaya, dan juga ada pekerjaan/lowongan lain yang tersedia di tempat lain.

Pernah juga dulu ketika aku sedang berujuang dapat beasiswa S2 di Saudi karena tidak kunjung hamil, tiba-tiba Allah beri pekerjaan di salah satu perusahaan di Surabaya. Dan tepat saat dia mulai bekerja di sana, ternyata aku hamil. Benar-benar skenario rezeki yang sudah Allah tetapkan untuk hamba-Nya.

A beautiful reminder for myself

So grateful to visit this campus again


Alhamdulillah


Menurutku, ujian finansial setelah aku resign dari PNS itu sangat naik dan turun. Yang berat sesungguhnya bukan karena tidak bisa hidup senyaman dulu (secara finansial), tetapi karena melihat teman-teman yang tidak ada kebutuhan bekerja di luar rumah dan tetap di sana ternyata hidup makmur bergelimang harta hahaha.

Tapi, Alhamdulillah aku menikah dengan Lopi yang baik orangnya. Yang mana punya suami seperti dia itu priceless. Susah nyari orang green flag kayak dia.

Dan sebenarnya, kehidupan kami ini sudah sangat enak. Banyak sekali rezeki yang kami miliki.
Kami dekat dengan orang tua dan mertua.
Kami tidak perlu pindah-pindah keliling Indonesia.
Kami ga perlu jadi pindang di KRL seperti yang terjadi di Jabodetabek.

Kami punya komunitas kajian yang mengingatkan pada kebaikan.
Dan lain sebagainya yang tidak bisa diukur menggunakan uang.

Terima kasih telah menjadi provider perjalanan ini

Jarang-jarang naik kereta bagus

Bela-belain pulang larut malam karena besoknya adalah hari bekerja


Dicintai dengan terhormat. Mungkin dulu wujudnya adalah dengan tidak mendekati aku sebelum waktunya. Namun, sekarang bentuknya adalah dengan berusaha mencari nafkah terbaik yang halal untuk aku dan Hafshah.

Terima kasih telah mencintai aku, Lopi. Kita berjuang sama-sama ya -biidnillah-

Selesai ditulis setelah mengerjakan modul kuliah
3 Dzulqodah 1447H

Catat baik-baik ya adik-adik

Nyoba bikin time laps. Lucu banget jadinya. Kayak orang pacaran. Dulu waktu sekolah ga bakal berani duduk berhadapan kayak gini

Terima kasih telah mau berusaha Lop

To raise our children together



Comments

Popular posts from this blog

Resign untuk Kedua Kalinya

Sistem Sekolah: Dulu Tidak Ada Yang Memberitahu Aku Tentang Ini

Bukan Sekedar Pindah ke Kontrakan

Belajar dari Senior Homeschooling

Persiapan Penyapihan: Perjalanan Mencari Perosotan