Hanya Allah yang Bisa Menjelaskan Rasa Sakit Hati Orang yang Kalian Lukai
Bismillahirrahmanirrahim
Halo everyone! Perasanku lagi kacau. Daripada aku salurkan ke hal yang ga baik, lebih baik aku rilis emosi di sini. So, here we go!
Aku sebenarnya lagi banyak deadline. Namun, aku kesampingkan dulu deadlinenya agar manajemen emosiku lebih baik. Perasaan sedih yang aku rasakan saat ini sebenarnya sama dengan yang sering aku rasakan dan sering aku ceritakan di sini, yaitu perasaan didiskriminasi atau diperlakukan berbeda.
Aku sedih ketika tidak diajak, tidak dilibatkan, tidak diikutsertakan, sementara teman-temanku yang lain ikut serta dalam hal yang sama. Dan aku juga sedih ketika aku tidak didukung atau minimal diperlakukan yang sama seperti banyak orang memperlakukan orang lain.
Contoh:
(1) Ketika orang lain punya acara, teman-temanku ramai-ramai merepost acara itu. Seolah mereka semua terlibat, ikut serta, dan mendukung acara itu. Gimana sih rasanya ketika timeline mu dipenuhi oleh repost-an yang sama dari teman-temanmu? Sebenarnya mungkin biasa saja, tetapi yang membuat aku sedih adal ketika aku yang punya acara, yang mau merepost adalah orang yang aku minta dulu. Mereka tidak berinisitif mau membantu menyebarkan acaraku sebagaimana yang mereka lakukan ke cara orang lain.
(2) Ketika seseorang punya acara, teman-temanku diajak, dilibatkan, dijadikan media partner atau sponsor, sedangkan aku? Aku baru tahu ada acara itu ketika sudah rilis posternya. Like, gimana sih caranya bisa gabung jadi media partner/sponsor ketika kesempatannya saja tidak dibuka untukku. Yang membuat aku sedih adalah seolah bubble pertemanan mereka itu eksklusif. Kalau ada acara ya mereka-mereka lagi yang jadi media partner atau sponsornya. Apakah tidak ada kesempatan buat aku untuk ikut sehingga usahaku juga dikenal banyak orang?
(3) Ketika teman-temanmu ikut dalam komunitas yang sama. Membicarakan hal yang sama. Saling merepost hal yang sama. Seru-seruan di story WA dan kamu tidak bisa ikut serta karena kamu tidak diterima oleh yang punya grup. Gimana rasanya lihat seisi timeline itu sama tapi kamu ga dilibatkan? Kamu akan ngerasa ditinggalkan ngga? Kamu akan merasa left behind ngga?
Call me baper or everything, you name it! Kalian bebas menjudge aku ketika aku menceritakan hal ini. Namun, jujur aku kecewaa dan sedih sekali ketika aku berusaha mengkomunikasikan ini ke beberapa orang di antara mereka dan mereka membela diri dengan mengatakan intinya jangan baper.
Baik, bagaimana jika mereka di posisiku? Bagaimana jika mereka diperlakukan seperti aku diperlakukan? Akankah mereka masih bisa mengatakan "Jangan baper"?
Aku sampai sudah di tahap berdoa, "Ya Allah, buatlah mereka mengerti bahwa yang mereka lakukan itu menyakitkan. Buatlah mereka paham dengan cara-Mu. Karena jika aku jelaskan dengan lisanku maka mereka tidak mau menerimanya."
Cara Allah itu bagaimana? Entahlah, aku yakin Allah punya cara terbaik untuk membuat mereka paham. Mungkin mereka akan diberi ujian yang sama sehingga tidak lagi menilai orang yang mengalami ini sebagai baper. Atau mungkin lewat cara lain.
Kalau kamu membaca cerita ini dan masih menilaiku sensitif, selamat! Mungkin kamu memang benar! Aku memang sesensitif itu.
Tapi, lagi-lagi, kamu tidak pernah tahu kan bagaimana aku dibesarkan? Luka apa yang aku alami sebagai anak broken home?
| Semoga Hafshah selalu dalam lindungan Allah |
Sebenarnya aku sudah sering menceritakan luka-luka itu, bisa kalian baca sendiri di postingan yang lain, tapi kali ini aku teringat suatu hal. Kalian pernah lihat Marshanda ga? Atau minimal Dul Jaelani waktu kecil? Apa penilaian kalian?
Keduanya lebai? Keduanya sensitif? Keduanya gampang nangis? Keduanya punya akhlak yang buruk?
Gampang banget ya kita memberi label ke orang hehe. Aku ingat Marshanda pernah berulah dan media menjudge dia perempuan yang ga bener. Aku juga ingat Dul Jaelani pernah sedikit memberontak setelah kecelakaan mobil yang menewaskan nyawa orang dan mungkin kalian yang melihat merasa nih anak ga bener.
Iya, mudaaah sekali kita memberi label ke orang yang sedang terluka. Coba kalian bayangin ya, sudahlah masa kecilnya penuh luka, menyaksikan orang terdekatnya berselisih, menyaksikan orang tuanya berulah, dan ketika mereka tumbuh dengan luka yang belum sembuh, kemudian mereka diberi label dengan label yang menyakitkan.
Menurut kalian rasanya gimana? Adil ga? Adil ga kalau sikap dan tingkah laku seseorang yang terluka itu dihakimi sebagai kesalahan dirinya sendiri tanpa diberi maklum atas kejadian pahit dalam hidupnya?
Sekali lagi, dan sekali lagi, aku ga bisa milih lahir dari keluarga yang seperti apa. Aku tidak bisa memilih siapa bapak dan ibuku. Aku tidak bisa memilih bagaimana cara aku dibesarkan. Coba kalian baca ini. Kalian kalau jadi aku, kira-kira bisa ga tumbuh dengan sifat sensitif ga?
JUJUR YA, hal yang sangat menyakitkan itu adalah ketika diberi label negatif dan yang disalahkan atas sifat buruk itu hanya diri ini seorang.
Like, kamu kalau ga tahu apa-apa mending ga usah ngasih label deh. Semoga anak keturunanmu ga ada yang ngerasain cobaanku itu.
Baru kemarin aku melewati sebuah jalan yang pernah aku lewati dengan bapakku. Ingatanku kembali ke masa ketika usiaku sekitar 6 tahun. Bapakku nabrak orang karena kelalaian beliau. Orangnya marah, tidak terima, lalu menghakimi bapakku di tempat.
Aku yang melihat kejadian itu? Tentu saja lari dan sedih. Lagi-lagi aku menyaksikan bapakku bukan orang baik, dibeli label, dimusuhi banyak orang, dan ternyata aku adalah anak dari orang yang seperti itu.
Bapak kalian orang baik? Selamat! Kalian tidak mengalami cobaan di masa kehidupan awal kalian yang membentuk persepsi kalian pada dunia hingga hari ini.
Dan idk, kalau kalian benci lihat Marshanda, aku malah merasa relate dengan hal-hal yang dia ceritakan. Kalau kalian merasa lebai dia pernah menangis karena sampai usia 30-an pun dia merasa kurang kasih sayang dari orang tuanya, yes, aku sangat paham perasaan itu.
Kalian yang ngelihat mungkin akan mengatakan, "Halah apaan sih, udah 30-an juga masih ngemis kasih sayang, yang kuat dong jadi orang."
Iya, lagi-lagi, kalian bisa mengatakan itu karena kalian tidak kehilangan kasih sayang di awal kehidupan kalian. Tapi kalian harus ingat, kasih sayang itu kebutuhan dasar manusia di awal kehidupannya. Dan ketika hal itu tidak terpenuhi, ia akan terus meminta haknya sampai kapanpun juga.
Puas kalian? Puas udah ngatain orang 'sensitif/baper'? Puas kalian tidak memvalidasi orang yang marah ketika diperlakukan berbeda?
Hanya Allah yang bisa menjelaskan ke kalian. Semoga Allah tidak menjelaskan ke kalian dengan cara kalian harus mencoba ujiannya dulu baru akan memahami perasaan orang yang kalian lukai.
---
Ditulis di Surabaya
1 Rabi'ul Tsani 1448H
Comments
Post a Comment